Sebelum Meninggal Gus Solah Ingin Muktamar NU Tahun Ini Bebas Politik Uang

aumber gambar: google
Almarhum Kh. Salahuddin Wahid ( Gus Solah)


IDEANEWS.CO - Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng di Jombang, Jawa Timur, KH Salahuddin Wahid (Gus Solah) wafat di RS Harapan Kita pada Minggu (2/2/2020).

Tokoh masyarakat, ulama, sekaligus sahabat Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng di Jombang, Jawa Timur, KH Almarhum Salahuddin Wahid (Gus Solah), Emha Ainun Nadjib atau akrab disapa Cak Nun menilai Gus Solah adalah sosok yang rasional dan jernih dalam menyikapi setiap Pemilihan Presiden.

Ia mengatakan selain itu menurutnya, Gus Solah adalah sosok yang tidak bisa dikooptasi, diseret, dan dipengaruhi hal-hal yang sifatnya non-nilai.

"Artinya oleh uang, jabatan, oleh apapun. Beliau insya Allah orang yang konsisten terhadap itu," kata Cak Nun di rumah duka di kawasan Jakaeta Selatan pada Senin (3/2/2020).

Cak Nun mengatakan terakhir bertemu dengan almarhum Gus Solah di Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur pada 1 November 2019.

Dalam pertemuan itu, Gus Solah menyampaikan padanya bahwa cita-cita terakhirnya sebelum wafat adalah untuk mengawal muktamar Nahdlatul Ulama agar bebas dari money politic atau politik uang
"Gus Solah itu cita-cita terakhirnya sebelum wafat adalah ingin mengawal Muktamar NU diusahakan supaya bebas dari money politic. Itu cita-citanya Gus Solah sebelum meninggal. Jadi muktamar NU yang berlangsung bersih sebagaimana khittahnya dulu," kata Cak Nun usai melayat Gus Solah di rumah duka di Jakarta Selatan pada Senin (3/1/2020) dini hari.

Selain itu, ia menilai Gus Solah adalah sosok sarjana modern yang memiliki pemikiran modern.
"Jadi pikiran-pikiran beliau juga modern. Sehingga Gus Solah selalu berusaha untuk merasionalkan semua proses yang beliau terlibat," kata Cak Nun.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Copy