Setelah Wuhan, Kini Muncul Wabah Baru Yang Berbahaya di Provinsi Hunan

sumber gambar: kompas


IDEANEWS.CO - China telah melaporkan wabah flu burung H5N1 yang mematikan di Provinsi Hunan, yang terletak di perbatasan selatan Provinsi Hubei, pusat penyebaran novel coronavirus atau 2019-nCoV.

"Wabah terjadi di sebuah peternakan di Distrik Shuangqing di Kota Shaoyang. Peternakan memiliki 7.850 ayam, dan 4.500 di antaranya telah mati akibat penularan. Pemerintah setempah telah memusnahkan 17.828 setelah wabah terdeteksi," demikian menurut pernyataan Kementerian Pertanian dan Urusan Pedesaan China pada Sabtu (1/2).

Sejauh ini tidak terjadi kasus penularan pada manusia yang dilaporkan.

Wabah H5N1 terjadi di tengah perjuangan otoritas China menahan penyebaran novel coronavirus yang telah meluas ke 24 negara dan menewaskan 362 orang. Mayoritas kasus kematian terjadi di Provinsi Hubei.

Virus flu burung H5N1 atau yang sering disebut flu burung memicu penyakit pernapasan yang parah pada burung dan dapat menular ke manusia. Pada 1996, virus ini terdeteksi pada angsa di China.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), adalah mungkin tetapi sulit untuk menularkan flu burung dari orang ke orang.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat menyebutkan bahwa sebagian besar infeksi flu burung pada manusia terjadi setelah melakukan kontak yang lama dan dekat dengan unggas yang terinfeksi.

Namun, flu burung sangat mematikan bagi manusia yang tertular dibanding SARS dan novel coronavirus. Tingkat kematiannya mencapai lebih dari 50% sepanjang 15 tahun terakhir, sementara SARS 10%, dan novel coronavirus 2% sejauh ini.

Dari 2003 hingga 2019, WHO melaporkan total 861 kasus H5N1 pada manusia yang dikonfirmasi di seluruh dunia. Dari jumlah tersebut, 455 di antaranya meninggal. 

Di China sendiri, terdapat 53 kasus infeksi flu burung pada manusia yang dilaporkan dalam 16 tahun terakhir, dengan 31 di antaranya meninggal.

Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah negara termasuk Indonesia telah atau sedang mengevakuasi warganya dari Wuhan setelah pada Kamis (30/1), WHO menetapkan novel coronavirus sebagai darurat kesehatan global. (South China Morning Post)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Copy