Tak Dapat Bantuan PKH Miskin, Tiga Kakak Beradik Kelaparan dan Terpaksa Makan Sabun

 
sumber gambar : tribunnews
Photo Andika (4) adik Nopri (9) dan Juliana (7)
IDEANEWS.CO - Ketika Indonesia dicoret Amerika Serikat dari daftar negara berkembang, dan diberikan status baru sebagai negara maju, ada tiga kakak beradik yang kelaparan dan terpaksa hampir setiap hari memakan sabun cuci untuk membohongi perut.


BADANNYA kurus, dia terkulai lemah di atas tikar di sebuah bilik papan berukuran sekitar 6 x 6 meter di Desa Muara Tais II, Kecamatan Muara Angkola Muara Tais, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.

Andika namanya. Bocah itu baru berusia 4 tahun. Tubuhnya sepertinya tampak kurang asupan gizi atau kurang terurus.

Balita itu dan kedua kakaknya, Nopri (9) dan Juliana (7), tinggal dan diasuh kakek dan neneknya yang sudah berusia lebih 80 tahun.

Informasi warga, Rosul (45), ayah ketiga bocah disebut warga pemalas dan sebagian lagi mengatakan pemikirannya kurang-kurang sehat. Sejak berpisah, Rotimah ibu ketiga bocah juga dikabarkan menikah lagi.

Kakak tertua Andika, Nopri, duduk di kelas 3 dan Juliana di kelas 2 di SDN Muara Tais II. Khusus Nopri, pertumbuhan badannya juga sepertinya kurang sehat, kulit (muka) Nopri menguning.
Camat Angkola Muara Tais, AM Fadhil Harahap seperti diberitakan Antara, Sabtu (22/2/2020), membenarkan, kondisi Andika jatuh sakit dan sekarang dalam perawatan medis.

"Kita sudah bawa ketiga kakak beradik ini ke Puskesamas dan mereka masih dalam perawatan dokter. Bantuan asupan gizi seperti susu, telur, mi instan, beras dan lainnya juga sudah kami bantu," katanya.

Kata Camat, Andika suka makan sabun, kemungkinan pengaruh kuat dari kakaknya, Nopri yang disebut-sebut setiap mencuci pakaian juga doyan memakan sabun. 

"Nopri suka sabun, sejak beberapa tahun ke belakang sejak kedua orang tuanya berpisah," sebut Camat.

Untuk memenuhi kebutuhan kehidupan keluarga dan adiknya, Nopri yang berusia sekitar lebih kurang 10 tahun itu ia harus banting tulang mencuci pakaian orang lain, disamping mencuci pakaian keluarga dan adik-adiknya.

"Kita juga kurang mengetahui persis apakah keinginan Nopri sehingga akhirnya mempengaruhi adiknya Andika makan sabun setelah menjadi tukang cuci atau sebelumnya," katanya.

Pihak Kecamatan bersama PKK Kecamatan sebelumnya juga suda ada pernah memberikan bantuan setelah mengetahui kondisi keluarga Andika yang memprihatinkan.

Namun, sayangnya keluarga ini menurut informasi belum terdata masuk ke dalam program PKH (Penerima Keluarga Manfaat) keluarga miskin, demikian program BSM (Bantuan Siswa Miskin) untuk Nopri dan Juliana.

"Sebenarnya kami sudah pernah usulkan ke Dinas Sosial agar keluarga miskin Andika ini dimasukkan sebagai peserta PKH demikian juga mengusulkan Nopri dan Juliana sebagai siswa penerima BSM," jawab camat.

Pun demikian masyarakat berharap kepada pihak terkait kiranya warganya yang tergolong miskin ini dapat terakomodir atau tercatat dalam program PKH dan BSM, dengan alasan sangat pantas.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Copy