Ramai-ramai Dokter Geram Terhadap Luna Maya dan Dokter Hewan Indro yang Bikin Video Anggap Belum Ada Kematian Karena COVID-19

sumber gambar: youtube
Photo Youtube

IDEANEWS.CO - Video bincang-bincang artis Luna Maya bersama pria bernama Indro Cahyono dapat protes dari dokter. Konten yang diunggah pada 12 April 2020 itu dinilai menyepelekan virus Corona atau COVID-19.


Dalam video berdurasi 2 menit 35 detik yang diunggah "account fanbase @lunamaya" di Instagram itu, Indro mengatakan dari sekian banyak korban meninggal karena COVID-19--per 16 April kemarin jumlahnya sudah mencapai 496--"belum pernah ada satu pun yang meninggal hanya karena Covid."
Kemudian Luna menimpali, "jadi belum ada, ya.

" Indro mengatakan korban meninggal biasanya karena ada komplikasi penyakit seperti jantung dan stroke. Lalu ia bilang, "jangan menghubungkan COVID-19 ini dengan kematian. Kalau ia sakit, iya (bisa meninggal)."

 Orang yang terinfeksi akan mengalami batuk, flu, dan agak sesak napas selama sepekan, kata Indro. Kemudian pekan berikutnya pasien bisa sembuh setelah antibodi untuk melawan virus diproduksi tubuh.

Indro lantas menegaskan bahwa "Covid ini membuat sakit," tapi "tidak seganas atau membunuh seperti yang ada di media."

 Luna Maya kembali menimpali. Ia menegaskan bahwa korban meninggal bukan hanya karena COVID-19, tapi karena penyakit penyerta. "Jadi jangan panik. Jangan lantas bingung takut dan curiga kepada semua orang," katanya.

Doktor Biomedik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) sekaligus dokter spesialis paru Achmad Hudoyo menyebut konten video tersebut berisi pernyataan yang "sembrono". Hudoyo menyebut Indro Cahyono cenderung menggampangkan COVID-19 yang kenyataannya dapat sangat mudah menyebar.

"Virus [itu] makhluk yang tumbuh pada manusia dan dapat kembang biak dengan cepat dan sangat mudah menyebar [...] Begitu sangat mudahnya menular," katanya saat dihubungi reporter Tirto, Jumat (17/4/2020).

Sementara dokter spesialis paru lain yang bertugas di RSUP Persahabatan Jakarta Erlina Burhan menyebut pernyataan Indro bahwa korban COVID-19 meninggal hanya dikarenakan penyakit penyerta tidak benar. Logikanya, orang yang sakit itu tidak lantas akan meninggal jika tidak terkena COVID-19.

"Dia bilang orang meninggal karena stroke, hipertensi, sakit gula, dan lain-lain. Sekarang coba dibalik. Orang yang sakit stroke, jantung, hipertensi kalau enggak ada Corona, enggak mati, kan?" kata Erlina melalui sambungan telepon, Jumat (17/4/2020).

Ia bahkan meminta Indro ke rumah sakit melihat pasien secara langsung untuk membuktikan omongannya di video tersebut. "Suruh dia ke rumah sakit lihat pasien-pasien di sini." Selain tidak benar, pernyataan Indro juga bermasalah karena ia akan membuat masyarakat tidak waspada dan "akan abai", terutama mereka yang merasa diri sehat dan tidak punya riwayat penyakit yang disebut.
'Masyarakat Indonesia yang sebelumnya menyepelekan, akan lebih menyepelekan lagi," katanya menegaskan.

Kritik serupa disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Daeng M. Faqih.

 "Bukti dan faktanya, kasus kematian bukan hanya orang yang tua, yang muda juga banyak," kata Daeng kepada reporter Tirto, Jumat (17/4/2020), menegaskan bahwa tanpa penyakit penyerta pun virus ini bisa membunuh.

 Seperti dokter lain, ia pun khawatir pernyataan Indro dapat membikin "masyarakat tidak hati-hati dan lengah," padahal saat ini saja "masyarakat belum disiplin" untuk mengikuti peraturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Pada akhirnya yang akan dirugikan adalah tenaga medis karena pasien membludak.

 Oleh karena itu ia meminta siapa pun itu tidak memberikan pernyataan asal ke masyarakat. "Kita semua, meskipun dokter, juga harus hati-hati."

Nama Indro Cahyono dikenal luas saat awal April 2020 namanya tercantum dalam pesan berantai berjudul 'literasi Covid-19'. Dalam pesan itu ia tertulis sebagai ahli COVID-19.

Namun pesan berantai itu dibantah oleh Indro. Kominfo juga menyatakan pesan berantai soal virus Corona 'dari Indro Cahyono' itu hanya berita bohong.

Terlepas dari kabar tersebut, Indro juga dianggap tidak kompeten membahas COVID-19 karena "dia, kan, dokter hewan," kata Erlina Burhan.

Salah satu penelitian Indro adalah soal kondisi kesehatan dan produktivitas sapi perah pasca erupsi gunung Merapi di DIY dan Jawa Tengah.

Kini Indro tercatat sebagai pegawai di Balai Penelitian Veteriner Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian. Dalam Laporan Tahunan BB Litvet 2017, ia disebut masuk dalam kelompok peneliti virologi yang tengah mengikuti program S2 di University Of Adelaide.

(tirto)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Copy