Soal Isu Presidium KAMI Bisa Gantikan Prabowo, Pakar: Gatot Baru Tukang Kritik

Gatot Nurmantyo (foto: antara)

IDEANEWSINDO.COM - Sebagai Menteri Pertahanan, Prabowo Subianto menjadi salah satu poros politik yang kuat di Indonesia.

Tersiar kabar bahwa Presidium Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) Gatot Nurmantyo diprediksi bakal menggantikan posisi peran Prabowo Subianto di dunia politik.

Dalam prediksi tersebut Gatot bakal menjadi ikon kelompok kritis terhadap pemerintah. Gatot juga disebut-sebut dapat merangkul pendukung Prabowo yang kecewa setelah mantan Danjen Kopassus itu menerima jabatan sebagai Menteri Pertahanan di Kabinet Indonesia Maju.

Direktur Eksekutif Sudut Demokrasi Research and Analysis (Sudra) Fadhli Harahab mengakui, bisa saja Gatot menggantikan peran Prabowo sebagai pengkritik pemerintah. Hal itulah yang sekarang sedang dilakukan Gatot.

Namun, dalam hal lain Gatot belum tentu bisa menggeser peran Prabowo. Karena secara figur dan ketokohan belum tentu dapat menyamai Prabowo.

Menurut Fadhli ketokohan Prabowo sudah sampai tingkatan oposisi. Selain itu, Prabowo sendiri merupakan pemimpin Partai Gerindra yang punya banyak wakil di Senayan. Sementara Gatot belum mencapai hal itu.

"Meskipun berasal dari institusi yang sama yaitu militer, tetapi secara ketokohan tentu masih sangat unggul Prabowo. Beliau sudah pernah menjadi oposisi beneran dengan Gerindranya. Kalau Gatot baru tukang kritik," ujar Fadhli.

Di sisi lain, Fadhli mengakui bergabungnya Prabowo ke jajaran pemerintahan Jokowi-Ma'ruf membuat kecewa para pendukungnya.

"Kekecewaan pendukung ya pasti ada. Berkurang mungkin iya, tapi tidak begitu signifikan. Dan menurut saya bukan berarti barisan kecewa itu lantas bergabung menjadi pendukung Gatot," kata Fadhli.

Untuk membuktikan hal itu tentu saja tidak bisa dengan kalkulasi saat ini. Menurut Fadhli, Gatot sudah mempunyai modal dengan menjadi kritikus pemerintah.

"Kalau asumsinya dengan menjadi pengkritik pemerintah lantas pendukung Prabowo yang kecewa menyeberang ke kubu GN tentu sangat naif. Kita lihat saja kelanjutannya, apakah GN masih berjuang sebagai pengkritik atau masuk melalui jalur lain, seperti masuk atau mendirikan partai, baru akan kelihatan jelas," tutur Fadhli.

s. pikiran-rakyat.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Copy