Tuntut Pemecatan Din Syamsuddin sebagai PNS dan Anggota MWA ITB, GAR: Mana Surat Resminya?



IDEANEWSINDO.COM - Kelompok Gerakan Anti Radikalisme Institut Teknologi Bandung (GAR ITB) baru-baru ini kembali menuntut pemecatan Sirajuddin Syamsuddin alias Din Syamsuddin.

Tuntutan ini dikeluarkan lewat sebuah laporan mirip surat terbuka yang ditujukan kepada Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) dan Ketua Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN).

Juru Bicara GAR ITB Shinta Madesari mengungkapkan kalau mereka menuntut agar Din Syamsuddin segera dipecat dari keanggotaannya di Majelis Wali Amanat (MWA) ITB dan statusnya sebagai ASN.

Perlu diketahui, Din Syamsuddin hingga hari ini masih terdaftar sebagai ASN dengan jabatan dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Selain itu, Din juga tergabung sebagai anggota MWA ITB dari wakil masyarakat.

Menurut Shinta, Din Syamsuddin kerap kali bersikap 'konfrontatif' terhadap pemerintahan Joko Widodo sehingga patut untuk dipecat dan dikeluarkan dari MWA.

"Kami dari GAR ITB itu keberatan kalau ada anggota MWA apalagi ASN yang melanggar tata tertib ASN sendiri gitu," tuturnya saat dihubungi tim Pikiran-Rakyat.com pada Jumat 30 Oktober 2020.

Shinta mengakui kalau pihak GAR sudah berulang kali membuat laporan yang sama di bulan-bulan sebelumnya.

Namun, Ketua MWA ITB Yani Panigoro hanya menanggapi desakan kelompok ini dengan pernyataan lisan saja.

"Biasanya kan kalau ada pemberhentian seperti itu, ada (surat) resmi dong, dinyatakan diberhentikan atau apa gitu, tapi ini enggak (ada)," terang Shinta.

"Secara resmi, secara official administratif, Din Syamsuddin tidak pernah ada pemberhentian dari MWA. Nah, itu yang kita tuntut," sambungnya.

Alumni Biologi ITB angkatan 1987 itu mendesak MWA untuk memecat Din Syamsuddin lewat surat resmi.

"Kalau orang ini memang sudah tidak layak sebagai MWA, keluarkan dong surat pemberhentian dari MWA!" tegas dia.

Ia menuntut MWA lebih tegas dalam menangani kasus seperti yang dialami oleh Din Syamsuddin ini.

"Kok bu Yani bilang pak Din Syamsuddin sudah diberhentikan dari MWA, tetapi pada saat 100 tahun ITB, masih nongol tuh!" ujar Shinta.

Jubir GAR menuding MWA ITB sangat kontradiktif antara pernyataan dengan kenyataannya.

Shinta juga menegaskan kalau pihaknya memunculkan status ASN dalam laporan itu agar MWA berpikir ulang saat mempertahankan posisi Din Syamsuddin.

"Dia memimpin sebuah organisasi yang kerjanya ngomporin rakyat untuk menentang pemerintah, pantes gak sih dia masih jadi ASN? Dan pantes gak sih dia masih dipertahankan sebagai MWA?" kata dia.

Pihak MWA ITB sendiri enggan merespon laporan yang dikirim GAR tersebut karena dianggap kurang penting.

"Lebih baik mikirin yang lain. Yang lebih bermanfaat untuk kemajuan ITB," jawab Prof. Dr. Bernhard Sitohang, Sekretaris MWA ITB saat dihubungi tim Pikiran-Rakyat.com di hari yang sama.


s. pikiran-rakyat.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Copy