Yusril Ihza Mahendra Tak Mau Bantu Pentolan 212: Sakit Hati Dibilang Murtad



IDEANEWSINDO.COM - Polisi membuka kembali penyidikan kasus dugaan pencucian uang dana Yayasan Keadilan untuk Semua (YKUS). Pentolan 212, Bachtiar Nasir, yang jadi tersangka kasus ini meminta bantuan hukum pada Yusril Ihza Mahendra. Tapi Ketua Umum PBB itu menolaknya. Yusril sakit hati pernah dibilang murtad dan kafir.

Sebelum Pilpres 2019, Yusril masih berada satu gerbong dengan kelompok 212. Namun, di tengah jalan, Yusril pindah haluan dan berbeda dukungan politik. Yusril mendukung pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin, sedangkan kelompok 212 mendukung Prabowo-Sandiaga Uno. Keputusan Yusril pindah dukungan politik itu mendapat reaksi keras dari kubu Prabowo-Sandi.

"Menjelang Pemilu, saya merasa saya yang mulai dizalimi dan dicaci-maki, bahkan ada yang mengatakan saya sudah murtad dan kafir," tutur Yusril, belum lama ini.

Mensesneg era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini mengetahui kecaman itu dari berbagai sumber. Mulai dari media sosial, jaringan streaming TV, dan spanduk yang isinya mengajak untuk menenggelamkan PBB karena Yusril sudah murtad dan kafir.

Bahkan, Yusril ingat, Neno Warisman, salah satu pendukung keras Prabowo mengatakan mungkin orang tidak akan menyembah Allah lagi kalau Prabowo kalah dalam Pilpres. Padahal, sebelum Pilpres, Yusril dan partainya mengklaim kerap memberi bantuan hukum pada ormas dan tokoh Islam, tanpa diminta. Namun bantuan-bantuan itu dilupakan hanya karena Yusril dan PBB mendukung Jokowi-Ma'ruf.

"Sekarang parpol yang menurut Anda paling membela Islam pada ke mana?" sindir pakar hukum tata negara itu.

Kini ketika ada maunya, Yusril baru didekati lagi. Dia bertutur, Bachtiar melalui seseorang, menghubunginya. Dia minta dibantu saat menjalani pemeriksaan sebagai tersangka dalam kasus pencucian uang yang disidik polisi.

Atas permintaan itu, Yusril menolak. Dia menyarankan Bachtiar yang merupakan pentolan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama itu minta bantuan ke Prabowo saja, capres yang mati-matian dibelanya ketika Pilpres lalu. Sebagai Menteri Pertahanan dan anak buah Jokowi, Prabowo diyakininya bisa membantu Bachtiar.

Lagipula, Prabowo tidak pernah dianggap murtad dan kafir oleh pendukungnya. "Beliau mukmin sejati dan pembela ulama, pembela umat Islam yang sesungguhnya seperti yang Anda katakan selama ini," sindir Yusril lagi.

Sementara Yusril, selain dicap murtad dan kafir, juga berada di luar pemerintahan dan tidak menjadi anak buah siapa-siapa. "Masak minta bantuan sama orang yang Anda anggap murtad dan kafir seperti saya," selorohnya.

Yusril pun menyebut, umat Islam mudah tertipu dan dijadikan permainan orang-orang yang punya kepentingan politik. Umat Islam termakan fakta yang dijungkirbalikkan orang-orang itu. Menurutnya, track record seseorang dalam pergerakan Islam di Tanah Air serta pembelaannya kepada umat Islam seperti dianggap tidak pernah ada. Bahkan, tega-teganya ditenggelamkan.

"Demi membela seseorang yang justru tidak jelas rekam jejaknya dalam pembelaan terhadap umat Islam," tutup dia.

Mengetahui nama Prabowo dibawa-bawa, Gerindra angkat suara. Waketum Gerindra Habiburokhman menilai Yusril masih sakit hati dengan lawan politiknya.

"Sepertinya Pak Yusril agak baper," sindir Habiburokhman.

Anggota Komisi III DPR ini berpendapat, seharusnya sebagai seorang advokat, Yusril bekerja tanpa melihat background politik orang yang meminta bantuan. "Walaupun secara politik mungkin berbeda, tapi urusan kemanusiaan kita enggak boleh abaikan," tegasnya.

Apa kata FPI? Ketua Dewan Syura FPI Muhsin Ahmad Alatas menyebut kata murtad yang ditujukan kepada Yusril hanya selorohan. "Artinya berpindah, ketika itu kan sama-sama umat Islam mendukung calon Prabowo, cuma ketika di tengah jalan dia belok kiri mendukung Jokowi. Nah itu kata guyonannya itu murtad. Jadi hanya guyonan atau ledekan," ujarnya.


s. wartaekonomi.co.id

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Copy