Eko Kuntadhi: Gerombolan Jenis Ini Menyeret Tenaga Kesehatan Kita Dengan Pasal Penistaan Agama



IDEANEWSINDO.COM - Pegiat media sosial Eko Kuntadhi menyoroti penetapan tersangka 4 tenaga kesehatan (nakes) RSUD Djasamen Saragih Pematangsiantar, Sumatera Utara (Sumut).

Empat nakes berjenis kelamin laki-laki itu ditetapkan sebagai tersangka karena dianggap menyalahi prosedur memandikan jenazah.

Para tersangka dijerat Pasal 79 C juncto Pasal 51 UU Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran. Tersangka juga dijerat pasal penistaan agama.

Eko Kuntadhi menceritakan kronologi penetapan tersangka empat nakes RSUD Djasamen Saragih.

Melalui akun Twitter pribadinya, @eko_kuntadhi mengatakan, awalnya seorang pasien RSUD Djasamen Saragih bernama Zakiyah meninggal pada 20 September 2020.

Menurut Eko, Zakiyah menderita beberapa penyakit dalam. Ia dinyatakan suspect Covid-19.

Karena darurat, empat petugas kesehatan itu terpaksa memandikan jenazah Zakiyah.

Suami Zakiyah protes. Ia tak terima jenazah istrinya dimandikan laki-laki yang bukan muhrimnya.

Suami Zakiyah kemudian melaporkan kasus itu ke polisi.

Bersamaan dengan itu, puluhan massa dari kelompok ormas Islam melakukan aksi demontrasi menuntut perawat ditetapkan sebagai tersangka.

Para pendemo juga menuntut direktur RSUD Djasamen Saragih dicopot dan dipenjara karena dianggap melakukan penistaan agama.

Tuntutan para pendemo membuahkan hasil. Empat perawat ditetapkan sebagai tersangka. Sementara direktur dan tiga wakil direktur RSUD Djasamen Saragih dicopot dari jabatannya.

Eko membagikan foto-foto para pendemo. Ia menyebut para pendemo hendak menyeret petugas nakes RSUD Djasamen Saragih dengan pasal penistaan agama.

“Gerombolan jenis ini yang mau menyeret tenaga kesehatan kita dengan pasal penistaan agama. Sayangnya aparat keamanan tunduk pada tekanan mereka,” tulis Eko, dikutip dari akun twitternya, Rabu (23/2).

Eko meminta Tim Satgas Covid-19 ikut bertanggung jawab atas penetapan tersangka 4 nakes RSUD Djasamen Saragih.

Menurut Eko, tenaga medis adalah garda terdepan dalam berperang melawan Covid-19.

“Jangan abaikan mereka. Jangan balas jasa mereka dengan memenjarakannya karena tekanan gerombolan gak jelas,” cetus Eko.

Eko juga meminta aparat penegak hukum tidak menjerat tersangka dengan pasal penistaan agama.

“Aparat hukum jangan lagi gegabah menggunakan pasal penistaan agama. Jangan sampai pasal ini menjadi simbol penindasan mayoritas atau menjadi simbol persekusi kepada mereka yang dianggap tidak sesuai dengan tafsir agama,” tandas Eko Kuntadhi.


s: pojoksatu.id

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Copy