Isu Moeldoko Kudeta Agus Harimurti Yudhoyono Dianggap Rocky Gerung Mirip Water Gate Skandal Amerika



IDEANEWSINDO.COM - Pihak istana belum memberikan klarifikasi soal isu keinginan Kepala Staf Kepresiden, Moeldoko kudeta Agus Harimurti Yudhoyono dari jabatan ketua umum Partai Demokrat.

Moeldoko juga belum memberikan keterangan lanjutan soal itu.    

Pengamat politik, Rocky Gerung menyampaikan pihak istana sangat berhati-hati menanggapi isu Moeldoko rebut Partai Demokrat.

“Kenapa? Karena ini bisa menyangkut banyak pihak. Ini sama seperti All The President Man saat skandal water gate, ini sama ketika presiden Richard Nixon memata-matai Partai Demokrat,” katanya.

Skandal Watergate (1972-1974) (atau disebut langsung "Watergate") adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan serangkaian skandal politik di Amerika Serikat yang mengakibatkan pengunduran diri Presiden Richard Nixon dan mengakibatkan krisis konstitusi yang menghebohkan pada tahun 1970-an.

Peristiwa ini dinamakan menurut nama sebuah hotel di Washington, D.C. tempat di mana skandal tersebut terjadi.

Hotel ini merupakan bagian dari kesatuan properti yang terdiri dari berbagai kantor, hotel, dan apartemen.

Peristiwa tersebut dimulai dengan penangkapan lima laki-laki yang berusaha membobol masuk ke kompleks perkantoran Komite Nasional Demokrat untuk memasang alat penyadap.

Insiden yang terjadi pada masa kampanye tersebut, setelah diselidiki dan ternyata dilakukan oleh kelompok pendukung Nixon, Komite untuk Pemilihan Kembali Presiden.

Rocky Gerung mengatakan publik menunggu presiden Joko Widodo mengucapkan sesuatu.

“Kita kan tahu, Pak Moeldoko bereaksi begitu cepat, artinya psikologi tahu keadaan, kok pagi-pagi sudah jangan melibatkan presiden. Karena KSP adalah kantor yang merawat isu publik dan kepentingan presiden,” katanya.

“Jadi tetap soal ini tidak bisa dilepas dari konstelasi yang ada di istana,” katanya.

Menurut Rocky Gerung, keterangan isu Moeldoko rebut Partai Demokrat dari Presiden Joko Widodo sangat dinantikan publik.

Rocky Gerung pun menyampaikan KSP adalah lidah dan kuping presiden.

“Bahkan detil agenda presiden sangat diketahui oleh KSP. Moeldoko bilang ini pribadi saya, bagaimana pribadi? Kalau pribadi bagaimana Anda di istana. Kalau anda bukan KSP maka komplotan yang mau kudeta tidak mungkin mereka mau ke Anda,” katanya.

Rocky Gerung mengatakan seri Moeldoko rebut Partai Demokrat bakal panjang.

“Kalau Pak Jokowi Akhirnya, ending-nya akan ke Jokowi,” katanya.

Menurutnya, Partai Demokrat akan potensi mengusung Anies Baswedan dalam pemilihan mendatang.

"Mungkin demokrat harus disingkirkan karena akan berkoalisi dengan Anies Baswedan, kan itu isu yang masuk ke kepala orang, nasibnya di Pak Jokowi tak akan berlanjut karena dihadang AHY dan Anies," katanya. 

Penurutnya, partai pendukung presiden Joko Widodo akan hijrah.

Sebelumnya, Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono, langsung membeti instruksi kepada seluruh kader Partai Demokrat.

"Kepada seluruh kader Demokrat, saya menginstruksikan untuk merapatkan barisan," kata pria yang akrab disapa AHY itu melalui akun Twitter Partai Demokrat yang dikutip pada Selasa (2/2/2021).

Selain itu, AHY juga meminta kepada para kader Demokrat untuk mempertahankan soliditas yang sudah lama terbangun.

Juga, kata AHY, agar terus bersatu untuk senantiasa memperjuangkan harapan rakyat Indonesia.

"Tetap mempertahankan soliditas yg telah terbangun ini. Serta, terus bersatu & senantiasa memperjuangkan harapan rakyat Indonesia," ucap AHY.

Menurut AHY, sejarah mencatat tidak ada partai politik yang kuat kalau tanpa menghadapi cobaan yang berat.

"Sejarah mengatakan, tidak ada partai yang kuat, tanpa cobaan yang berat. Kapal yang kokoh tidak akan hancur diterjang ombak. Nahkoda yang tangguh, tidak lahir dari lautan yang tenang," ujarnya.

"Kepada seluruh kader Demokrat, saya menginstruksikan untuk merapatkan barisan," kata pria yang akrab disapa AHY itu melalui akun Twitter Partai Demokrat yang dikutip pada Selasa (2/2/2021).

Selain itu, AHY juga meminta kepada para kader Demokrat untuk mempertahankan soliditas yang sudah lama terbangun.

Juga, kata AHY, agar terus bersatu untuk senantiasa memperjuangkan harapan rakyat Indonesia.

"Tetap mempertahankan soliditas yg telah terbangun ini. Serta, terus bersatu & senantiasa memperjuangkan harapan rakyat Indonesia," ucap AHY.

Menurut AHY, sejarah mencatat tidak ada partai politik yang kuat kalau tanpa menghadapi cobaan yang berat.

"Sejarah mengatakan, tidak ada partai yang kuat, tanpa cobaan yang berat. Kapal yang kokoh tidak akan hancur diterjang ombak. Nahkoda yang tangguh, tidak lahir dari lautan yang tenang," ujarnya.

Pembelaan Moeldoko

Menanggapi tudingan dirinya disebut akan mengambil alih Partai Demokrat, Moeldoko angkat bicara. Ia mengatakan, sebetulnya tidak mau mengomentari isu tersebut. 

Namun demikian, Moeldoko mengaku tidak ingin isu tersebut berlarut-larut dan mengaitkannya dengan Presiden Joko Widodo dan Istana Kepresidenan.

"Dalam hal ini, saya mengingatkan jangan dikit-dikit Istana, dan jangan ganggu Pak Jokowi karena beliau tidak tahu sama sekali, enggak tahu apa-apa dalam isu ini. Jadi itu urusan saya, Moeldoko ini bukan selaku KSP," kata Moeldoko melalui konferensi pers secara virtual, Senin (1/2/2021).

Lebih lanjut, Moeldoko mengatakan jika dirinya kerap didatangi tamu, termasuk beberapa kader partai Demokrat. Para tamunya itu menyampaikan terkait kondisi internal Partai Demokrat. 

Saat mereka bercerita, Moeldoko mengaku hanya mendengarkannya saja tanpa memberi masukan atau pun saran. Namun, Moeldoko juga mengaku prihatin atas kondisi tersebut.

"Berikutnya pada curhat tentang situasi yang dihadapi, ya gua dengerin aja, berikutnya ya dengerin aja. Saya sih sebenernya prihatin lihat situasi itu, karena saya bagian yang mencintai Demokrat," ucap Moeldoko.

Moeldoko menambahkan, tudingan terhadap dirinya yang akan mengambil alih Partai Demokrat, itu muncul karena tersebarnya beberapa foto dirinya bersama kader Demokrat. 

"Mungkin dasarnya foto-foto. Orang dari Indonesia Timur dari mana-mana datang ke sini pengen foto sama gua, sama saya, ya saya terima aja, apa susahnya," kata Moeldoko.

"Itulah menunjukan seorang jenderal yang tidak punya batas dengan siapapun. Kalau itu jadi persoalan yang digunjingkan silakan saja, saya tidak keberatan.”


s: tribunnews.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Copy