Sosok Handik Zusen, Komandan Pemburu Laskar FPI, Alumnus Sekolah Pencetak Perwira Terbaik



IDEANEWSINDO.COM - Siapa sangka salah satu sekolah di Indonesia alumni kini mejadi seorang terkenal di lingkup TNI.

Yakni SMA Taruna Nusantara.

Diantaranya AKBP Handik Zusen.

Komandan pemburu laskar FPI. Ia adalah salah satu siswa angkatan ketujuh.

Setelah menamatkan pendidikan di SMA Taruna Nusantara, ia melanjutkan pendidikan di akademi kepolisian (akpol).

Handik Zusen pun selesai 2003 lalu.

Selama kariernya hingga saat ini, Handik Zusen banyak mengungkap kejahatan.

Ternyata sekolah tersebut pendirinya adalah mantan wakil presiden ke-6 yakni  Jenderal (Purn) Try Sutrisno. 

Seperti diketahui, SMA Taruna Nusantara selama ini dikenal sebagai pencetak taruna terbaik di TNI/Polri.

Beberapa alumnus yang terkenal adalah Kolonel Inf Rudy Saladin.

Saat ini, Kolonel Inf Rudy Saladin menjadi ajudan dari Presiden RI Joko Widodo atau Jokowi.

Kolonel Rudy Saladin lahir di Ujung Pandang, Sulawesi Selatan pada 17 September 1975. Dia, adalah perwira lulusan Akmil tahun 1997.

Di angkatannya, Kolonel yang dibesarkan di pasukan pemukul terbesar di TNI ini, merupakan lulusan terbaik, peraih bintang Adhi Makayasa.

Kolonel Rudy Saladin juga tercatat sebagai alumni SMA Taruna Nusantara. Dia juga pemegang gelar S-2 International Relations, Webster University St. Louis, Missouri, Amerika Serikat.

Tak hanya itu, Letkol Inf Erwin Ekagita Yuana angkatan kedua SMA Taruna Nusantara menjabat sebagai Komandan Kodim 0734/Yogyakarta.

Tak hanya mereka, Letkol Laut (P) Ahmad Noer Taufik, angkatan keempat, dikukuhkan sebagai komandan pertama KRI Alugoro-405, kapal selam buatan dalam negeri.

Pengukuhan dilakukan langsung oleh Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto pada Senin (6/4/2021).

Update Kasus Penembakan Laskar FPI 

Bareskrim Mabes Polri menaikkan status tersangka untuk 3 polisi setelah gelar perkara.

"Penyidik telah melaksanakan gelar perkara terhadap peristiwa KM 50, dan kesimpulannya status dari terlapor tiga orang tersebut dinaikkan menjadi tersangka," ujar Brigjen Rusdi Hartono di kantornya, Jakarta Selatan, Selasa lalu.

Dalam mengusut kasus ini, penyidik diklaim telah memiliki barang bukti yang cukup, ditambahngan bukti dari Komnas HAM.

Namun, Rusdi tidak membeberkan apa saja barang bukti yang dimaksud, termasuk inisial kedua tersangka yang masih belum diungkapkan.

Rusdi Hartono menyatakan keduanya masih belum dilakukan proses penahanan oleh penyidik Polri.

"Enggak, ini kan masih kita lihat. Apakah tersangka ditahan, nanti akan dilanjutkan oleh penyidik," kata Brigjen Rusdi kepada wartawan, Rabu (7/4/2021).

Rusdi menuturkan penahanan merupakan kewenangan dari penyidik.

Nantinya, penyidik yang akan menilai apakah keduanya harus dilakukan proses penahanan atau tidak.

Namun, dipastikan bahwa kedua anggota Polda Metro Jaya tersebut telah dibebastugaskan dan dijerat Pasal 338 juncto Pasal 351 KUHP tentang pembunuhan dan penganiayaan.


s: tribunnews.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Copy