Serda Ucok Dikabarkan Masuk Satuan Intelijen, Ini Keistimewaan Grup 3 Sandhi Yudha Kopassus



IDEANEWSINDO.COM - Tentara Nasional Indonesia (TNI) memiliki berbagai pasukan elite. Salah satunya yang terkenal dan disegani negara lain adalah Komando Pasukan Khusus (Kopassus).

Korps Baret Merah ini memiliki tiga grup yakni Grup I, Grup II dan Grup III. Selain grup, ada juga satuan Pusat Pendidikan Pasukan Khusus yang berlokasi di Batujajar, Bandung dan Satuan 81/Penanggulangan Teror (Satgultor 81) di Cijantung, Jakarta Timur.

Setiap grup dikomandoi perwira berpangkat Kolonel. Salah satu grup di Kopassus adalah Grup 3/Sandhi Yudha yang bermarkas di Cijantung, Jakarta Timur.

Tidak semua anggota bisa tergabung kedalam grup ini. Mereka yang terpilih di Grup 3 Sandhi Yudha adalah prajurit pilihan. Dikabarkan, anggota Kopassus Group II Kandang Menjangan Kartasura, Serda Ucok Tigor Simbolon masuk kedalam grup yang memiliki sesanti dhuaja ‘Tri Kottaman Wira Naraca Byuha’.

Prajurit komando yang tergabung dalam grup ini dibekali berbagai keahlian. Salah satunya kemampuan intelijen yang mumpuni.

Satuan Kopassus ini memiliki spesifikasi tugas perang rahasia ‘Clandestine Operation’, termasuk kemampuan dalam intelijen tempur atau combat intell,dan counter insurgency (kontra pemberontakan).

Pasukan ini malang melintang di berbagai operasi, baik dalam negeri maupun luar negeri. Salah satu operasi sukses yang dijalankan adalah saat melakukan operasi rahasia di negara Belanda.

Dikutip Okezone dalam buku Kopassus untuk Indonesia, karangan Iwan Santosa dan E.A Natanegara. Prajurit Kopassus terpilih memantau langsung kiprah warga keturunan Maluku di Parlemen Belanda.

Salah satunya Sam Formes, anggota parlemen dari Partai Greolinks. Dia diketahui aktif menjadi mediator untuk mengkader generasi penerus Republik Maluku Selatan (RMS) di Negeri Kincir Angin tersebut.

Secara keseluruhan didapati kekuatan pengikut RMS mulai berkurang karena terpecah belah. Apalagi dalam era demokrasi dan keterbukaan sekarang, tindak kekerasan untuk memaksakan kehendak, tidak lagi popular di Belanda dan Indonesia.

Saat itu, Suhartoyo bersama Tim Kopassus memantau langsung perayaan HUT RMS-ke55 tahun 2005 di Gedung Congres Centrum Den Haag dan HUT RMS ke-56 tahun 2006 di Gedung RAI Amsterdam.

Wakil Presiden RMS Watilette yang mewakili Presiden RMS Tutuhatunewa berusaha memotivasi anggota RMS untuk tetap memperjuangkan gagasan mendirikan negara sendiri. Watilette mengakui kondisi keuangan RMS sedang kritis sehingga harus meminta sumbangan dari anggota, Yayasan, organisasi dan gereja karena mereka sudah tidak lagi mendapat bantuan sumbangan dari Pemerintah Belanda.

Gangguan kelompok separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM) juga dipantau di Belanda. Meski jumlah aktivis OPM hanya sekitar 1.000 orang,” ujar Suhartoyo, kegiatan yang mereka lakukan mampu menarik perhatian publik.

“Semisal bulan Mei 2003, mereka mengadakan kongres Papua di Kota Leiden. Lalu pada tanggal 15 November 2005 mereka mendompleng acara peluncuran buku sejarah Papua karya Profesor PJ. Drooglever di Perpustakaan Negara di Den Haag. Mereka berusaha memasukan isu kemerdekaan Papua sebagai agenda pembahasan di Uni Eropa,” ujar Suhartoyo

Beberapa waktu lalu, MNC Portal berusaha meminta konfirmasi kepada Kepala Penerangan (Kapen) Kopassus Letkol Inf. Achmad Munir terkait bebasnya Serda Ucok, namun hingga saat ini belum ada tanggapan.

Nama Serda Ucok ramai diperbincangkan di media sosial. Dia dianggap membela rakyat dari aksi premanisme di Yogyakarta. Ratusan orang kala itu berbondong-bondong memberikan dukungannya di Pengadilan Militer (Dilmil) II-11 Yogyakarta.


s: okezone.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Copy