Anies Baswedan Marah, Ternyata Banyak Perusahaan Tak Patuhi Perintah Gubernur, Benarkah? Simak Ini



IDEANEWSINDO.COM - Di masa pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) seperti sekarang, ternyata banyak perusahaan yang tidak patuh pada perintah Anies Baswedan.

Hal itu diungkapkan langsung oleh Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan pada Senin 5 Juli 2021.

Anies Baswedan tampak geram mendapatkan informasi bahwa banyak perusahaan di Jakarta yang bandel dan tak mau melaksanakan perintah gubernur.

Kemarahan Gubernur Anies Baswedan itu terkait dengan kemacetan panjang yang terjadi di sejumlah ruas jalan di ibukota negara pagi tadi.

Kemacetan yang terjadi pagi tadi merupakan buntut dari penyekatan yang dilakukan di sejumlah tempat terkait pemberlakukan PPKM Darurat yang sudah dimulai Sabtu 3 Juli 2021 pekan kemarin.

Sesuai keputusan pemerintah, pelaksanaan PPKM Darurat tersebut berlangsung hingga Senin 20 Juli 2021 tiga pekan ke depan.

Dalam rentang waktu tersebut, mestinya semua komponen di Jakarta termasuk perusahaan-perusahaan, harus patuh pada ketentuan pemerintah.

Tapi yang terjadi justeru sebaliknya. Tak sedikit perusahaan yang sampai saat ini masih memaksa karyawannya bekerja.

Padahal sesuai kebijakan pemerintah, yang bekerja hanyalah yang beraktivitas di sektor esensial semata.

Atas dasar itulah orang nomor satu di DKI Jakarta ini kesal. Ia sangat marah sehingga bakal menghardik perusahaan-perusahaan yang diidentifikasikan berseberangan dengan pemerintah.

“Sampai saat ini ada perusahaan yang belum mengikuti ketentuan yang pemerintah.”

“Padahal, hanya sektor esensial dan kritikal yang boleh bekerja di kantor atau work from office (WFO),” ujarnya.

Sesuai ketentuuan, perkantoran di sektor non-esensial wajib menerapkan 100 persen bekerja dari rumah atau work from home (WFH).

“Pemerintah telah menetapkan hanya sektor esensial dan sektor kritikal yang bisa berkegiatan di masa PPKM Darurat,” ucapnya, Senin 5 Juli 2021.

Untuk itu, Anies Baswedan memperingatkan perusahaan non-esensial yang masih ngotot mempekerjakan karyawannya untuk segera menerapkan kebijakan 100 persen WFH.

“Kasihan para karyawan kalau pimpinan perusahaannya terus melaksanakan mereka harus masuk, padahal bukan sektor esensial,” ujarnya di Balai Kota Jakarta.

Bila masih ada perusahaan yang membandel, Anies Baswedan meminta masyarakat atau karyawan segera melapor ke Pemprov DKI melalui aplikasi Jakarta Kini (JAKI).

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini pun menjamin bakal merahasiakan identitas dari pelapor.

“Bagi karyawan yang bekerja di sektor non esensial dan perusahaannya memaksa untuk bekerja, laporkan lewat JAKI,” kata dia.

“Anda laporkan di situ, biar nanti tim kami bertindak,” sambungnya.

Sanksi pun bakal diberikan kepada perusahaan yang masih nekat melanggar ketentuan 100 persen WFH, padahal bukan termasuk sektor esensial.

“Ini bukan membatasi untuk mengosongkan kota Jakarta, untuk membuat lalu lintas menjadi lengang. Ini untuk menyelamatkan,” tuturnya.

“Ini gerakan penyelamatan warga. Jadi, mari kita ikut menjadi bagian dari penyelamatan,” tambahnya.

Pekerja Menunggu Berjam-jam

Arus lalu lintas di pos penyekatan Lampiri, Duren Sawit, Jakarta Timur macet total, sejumlah pengendara yang hendak bekerja harus menunggu berjam-jam untuk melintas.

Petugas gabungan masih terus melakukan penjagaan di hari ketiga penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat.

Tak terkecuali di pos penyekatan Lampiri, Jalan Kalimalang.

Ratusan pengendara yang hendak melintas membuat suasana di sekitar lokasi mecet total.

Mereka yang tak memiliki kepentingan diputar balikkan oleh petugas, sementara yang hendak bekerja rela menunggu berjam-jam untuk bisa melintas.

Agung, satu diantara pengendara mengatakan ia telah terjebak kemacetan sedari melintas di pos penyekatan Sumber Arta.

Ia yang bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi memang tak mendapatkan work from home (WFH) dan harus masuk kerja.

"Saya kerja di konstruksi. Kebetulan saya proyeknya di Serpong, ke Jakarta cuma melintas doang, kan konstruksi nggak masalah kan. Tapi ini malahan enggak bisa masuk. Setahu saya konstruksi kan bisa kerja ya. Saya lihat situasi dulu," katanya di lokasi, Senin 5 Juli 2021.

Agung menjelaskan untuk di pos penyekatan Lampiri saja ia telah menunggu selama satu jam lamanya.

Namun, ia enggan untuk memutar balik lantaran harus masuk kerja di awal pekan ini.

"Harapannya tetap diizinkan masuk. Ini panjang banget dari sumber arta. Ada sejam-an dari sana," lanjutnya.

Deri, pengendara lainnya pun demikian. Ia yang bekerja di Tangerang memang biasa melintas di Jalan Kalimalang.

Kediamannya yang berada di Pekayon, Bekasi memaksanya untuk melintas di pos penyekatan Lampiri.

"Saya dari pukul 07.30 WIB rumah di pekayon tujuan ke Tangerang. Ini saya izin sama bos saya ya. Saya nunggu dulu kemungkinan untuk bisa lewat," tandasnya.


s: tribunnews.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Copy