Bayar Rp15 Juta untuk Jadi Satpol PP DKI, Pria Ini Mengaku Baru Digaji Rp3 Juta



IDEANEWSINDO.COM - Para korban penipuan rekrutmen petugas jasa lainnya per orangan (PJLP) Satpol PP DKI Jakarta mengaku merasa malu.

Tidak hanya itu, mereka juga harus menelan pil pahit lantaran gaji yang diperoleh dari pelaku YF dan BA, tidak sebanding dengan duit yang dikirim kepada pelaku sebagai uang pelicin.

Seperti yang diungkapkan korban, RY (43) yang telah menyetor duit hingga Rp 15 juta pada bulan lalu.

Namun dia baru mendapatkan gaji dari pelaku sebesar Rp 3 juta.

Hal itu diungkapkan RY saat diinterogasi Kepala Satpol PP DKI Jakarta Arifin di Balai Kota DKI pada Senin (26/7/2021).

Saat itu, Arifin bertanya soal masa kerja RY menjadi Satpol PP gadungan yang direkrut YF.

“Jadi Satpol PP berapa lama?,” tanya Arifin. “Baru satu bulan,” jawab RY.

“Kamu ngeluarin biaya nggak jadi Satpol PP dan berapa biayanya?” tanya Arifin lagi.

“Ngeluarin pak, Rp 15 juta bayar ke pelaku,” ucap RY.

Arifin lalu bertanya, soal gaji yang dia dapat dari pelaku YF.

“Sudah digaji pak tanggal 19 Juli kemarin, dibayar Rp 3 juta,” kata RY.

Selain itu, Arifin juga bertanya kepada korban yang satu-satunya perempuan berinisial JK (33).

Kepada Arifin, JK mengaku telah bekerja dengan YF hampir dua bulan lamanya.

“Saya keliling ke Jakarta Utara dan Jakarta Timur. Sasarannya orang yang nggak pakai masker, tindakannya berupa tilang dan teguran. Tilang dikasih surat, denda secara bayar dan secara sosial,” kata JK.

Penasaran dengan jawaban JK, Arifin lalu bertanya soal warga yang membayar sanksi denda.

Sebab sesuai Perda Nomor 2 tahun 2020 tentang Penanggulangan Covid-19, masyarakat yang tidak memakai masker dapat dikenakan sanksi denda Rp 250.000.

“Ada yang bayar nggak?” tanya Arifin. “Saya nggak tahu pak, saya hanya nulisin saja pak. Saya bikin data, lalu kasih ke orangnya (YF) habis itu pulang,” kata JK.

Dalam kesempatan itu, Arifin juga menyinggung soal biaya yang dipatok YF untuk menjadi PJLP Satpol PP gadungan. “Rp 25 juta pak,” ucap JK.

Kepada Arifin, JK mengaku awalnya sempat curiga dengan tawaran pelaku karena nilai yang dipatok cukup besar.

Kemudian tidak ada bukti tandatangan Kepala Satpol PP DKI Jakarta Arifin dalam surat keputusan (SK) pengangkatannya sebagai PJLP Satpol PP.

“Ada nama dan NIK Bapak (Arifin), tapi nggak ada tanda tangannya. Cuma ada barcode, pas saya cek kok kosong. Saya merasa kecewa banget ketipu, apalagi sudah ketemu dengan orangtua,” kata JK.

Sementara itu, korban lainnya berinisial RM (34) mengaku dipatok duit Rp 7 juta oleh pelaku untuk menjadi PJLP Satpol PP.

Namun RM baru menyanggupi duit hanya Rp 5 juta.

“Saya baru kerja sebulan. Diminta duit Rp 7 juta, baru bayar Rp 5 juta. Masih ada sisanya Rp 2 juta lagi. Saya sudah gajian, bini (istri) yang ngambil tuh sekitar Rp 985.000,” imbuhnya.


s: tribunnews.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Copy