Curhatan Pria Timor Leste ke Jurnalis Asing, Mereka yang Mendukung Indonesia masih Hidup dengan Baik



IDEANEWSINDO.COM - Fakta mencegangkan diungkap jurnalis asing asal Selandia Baru bernama Caitlin McGee turun saat ke Timor Leste.

Caitlin McGee menerima curahan hati atau surhat seorang pria miskin di Timor Leste dalam sebuah kunjungan tahun 2017 lalu.

Dalam curhatnya pria bernama Fortunado D'Costa, mengatakan, "mereka adalah pahlawan di masa lalu, tetapi sekarang mereka mengkhianati kami."

"Kami telah ditinggalkan oleh pemerintah. Bagi para veteran tentu saja mereka masih pahlawan," lanjutnya.

Sebuah hal mengejutkan terjadi lagi di Timor Leste, di tengah masa pandemi Covid-19 sekarang ini.

Edisi terbaru Global Hunger Index (Indeks Kelaparan Global) mengatakan Timor Leste mencatat tingkat kelaparan yang 'mengkhawatirkan'.

Dan untuk untuk mencari kebenaran hal tersebut, seorang jurnalis asing asal New Zealand atau Selandia Baru bernama Caitlin McGee turun ke lapangan.

Seperti dikutip dari newshub.co.nz, Selasa (20/10/2020) wartawan bernama Caitlin McGee penasaran dengan kondisi Timor Leste.

Caitlin McGee menggandeng Asia New Zealand Foundation melakukan penyelidikan ke ibu kota Timor Leste, Dili, pada tahun 2017 silam.

Tujuan atau misi Caitlin McGee ke Timor Leste sangat sederhana. Caitin McGee ingin melihat Timor Leste dari segala sisi setelah merdeka dan diakui PBB tahun 2002.

Dalam tulisan, Caitlin McGee awalnya sangat terkesima dengan pemandangan di Kota Dili. Terutama keindahan alam Bumi Lorosae, nyaman dan bersih serta dekat laut.

Hanya saja setelah itu, pemandangan berubah ketika berjalan ke pinggiran kota. Penampakan berubah menjadi kehidupan kumuh orang-orang terpinggirkan.

Tetapi bagi orang-orang yang tinggal di daerah kumuh di sekitar ibu kota, hidup sama sekali tidak indah.

"Kami telah ditinggalkan oleh pemerintah. Bagi para veteran, mereka adalah pahlawan di masa lalu, tetapi sekarang mereka mengkhianati kami," kata pria Timor Leste, Fortunado D'Costa.

“Kami mendukung gerakan perlawanan tetapi mereka yang mendukung pemerintah Indonesia masih hidup dengan baik.

"Hari ini kami memiliki kemerdekaan tetapi kami tidak memiliki apa-apa lagi. Hanya perdamaian dan stabilitas."

Sekitar 42 persen orang Timor hidup dalam kemiskinan dan orang-orang yang mengais-ngais sampah adalah di antara yang paling putus asa.

Tahun 2020 ini menandai 18 tahun sejak Timor-Leste memperoleh kemerdekaannya setelah 25 tahun pendudukan Indonesia yang mereka anggap menindas.

Sejak itu, para pemimpinnya telah menyatukan demokrasi yang stabil dan menyalurkan listrik ke desa-desa terpencil.

Tetapi mereka telah berjuang untuk mengurangi kemiskinan yang meluas di antara 1,1 juta orang Timor Leste.

Uang - atau kekurangannya - bukanlah masalahnya. Timor-Leste telah diberkati dengan cadangan minyak dan gas.

Tapi mereka sekarang hampir habis - dan pendapatan yang mereka hasilkan akan hilang dalam 10 tahun ke depan karena pemerintah memompa sebagian besar uang yang dihasilkan dari minyak bumi ke skema pembangunan besar.

Pemerintah telah menghabiskan sekitar $ 300 juta untuk Proyek Tasi Mane - proyek infrastruktur minyak bumi di barat daya negara itu.

Selain Proyek Tasi Mane, pemerintah memompa ratusan juta untuk mengembangkan daerah kantong yang disebut Oecusse dan mengubahnya menjadi zona ekonomi khusus yang diharapkan dapat menarik investasi asing.

Sekali lagi, ini terbukti kontroversial karena rencana keuangannya tidak jelas.

Tetapi pemerintah mengatakan proyek-proyek besar ini diperlukan dan uang tidak akan habis.

"Orang mengira uang akan habis dalam waktu 10 tahun, tapi ini hanya prediksi," kata politisi Timor-Leste Estanislau da Silva.

"Kami sedang mengembangkan ekonomi dan saya tidak berpikir bahwa kami akan ditinggalkan dengan tangan kosong dalam waktu 10 tahun. Dan ini adalah taruhan terbaik yang kami lakukan saat ini untuk mendiversifikasi ekonomi kami."

Pemerintah mengakui perlu berinvestasi lebih banyak di bidang pendidikan dan kesehatan.

Timor-Leste memiliki angka kusta tertinggi di Asia Tenggara dan 50 persen anak-anak terhambat oleh malnutrisi.

Kemajuan Tidak Signifikan

Setelah memutuskan untuk menentukan nasibnya sendiri dan melepaskan diri dari NKRI, ekonomi Timor Leste disorot karena tidak mengalami perkembangan.

Bahkan kini Timor Leste disebut sebagai negara dengan tingkat kelaparan tinggi di dunia.

Karena setelah lepas dari Indonesia sejak referendum tahun 1999, Timor Leste harus menafkahi dirinya sendiri.

Dulu, ketika masih menjadi provinsi ke-27 Indonesia, Timor Leste selalu mendapat suplai dana dari negara.

Namun kini sudah lain ceritanya. Negara yang dipimpin Francisco Guterres harus menghidupi warganya dengan usaha sendiri.

Minyak dan gas alam, selalu digaung-gaungkan bakal menjadi andalan rakyat Timor Leste. Bahkan mengklaim bakal lebih sejahtera.

Tapi sekali lagi, faktanya tidak demikian. Murahnya harga minyak bumi karena pandemi dan berujung krisis, membuat Timor Leste kian terpuruk.

Bahkan kini Timor Leste disebut sebagai negara dengan tingkat kelaparan tinggi di dunia.

Edisi terbaru Global Hunger Index (Indeks Kelaparan Global) mengatakan Timor Leste mencatat tingkat kelaparan yang 'mengkhawatirkan'.

Situasi tersebut telah memburuk dalam beberapa tahun terakhir.

Dalam laporan tersebut, Timor Leste merupakan peringkat terburuk kedua di antara 107 negara, setelah Chad.

Chad sendiri merupakan sebuah negara yang terletak di Gurun Sahara, Afrika.

Sebagai akibat dari kondisi wilayahnya yang didominasi oleh padang gurun dan lokasinya yang jauh dari laut, Chad pun memperoleh julukan 'jantung mati Afrika'.

Melansir Macau Business, Rabu (14/10/2020), Timor Leste memperoleh Global Hunger Index 37,6 (maksimum 100, peringkat terburuk)

Laporan tersebut menganggap situasi di negara Timor Leste itu 'mengkhawatirkan'.

Hal tersebut menjadikan Timor Leste yang terburuk kedua dalam indeks tahun ini di antara negara-negara yang dianalisis.

Dengan menyoroti bahwa situasi di Timor Leste semakin memburuk, penulis laporan menjelaskan hal itu disebabkan oleh beberapa faktor yang menyebabkan kerawanan pangan kronis di Timor Leste.

Di antara faktor-faktor tersebut menyoroti produktivitas pertanian yang rendah.

Lalu konsumsi makanan yang tidak memadai baik dalam jumlah maupun kualitas dan ketergantungan banyak warga negara pada strategi nilai subsistensi rendah yang unik.

“Infrastruktur sanitasi dasar, air bersih, jalan, irigasi, sekolah, dan kesehatan buruk, begitu pula tingkat keuangan dan sumber daya manusia negara,” kata penulis.

“Risiko iklim juga berdampak negatif (Global Hunger Index 2019),” kata penulis.

Yang menjadi perhatian khusus adalah malnutrisi pada anak, dengan lebih dari separuh anak menderita dwarfisme (manusia kerdil) dan hampir 15% anak-anak menderita kelemahan,” kata laporan itu.


s: tribunnews.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Copy