Fahri Hamzah Heran Isu PKI dan Komunisme Digoreng Setiap Bulan September: Kenapa Masih Laku?



IDEANEWSINDO.COM - Politisi Partai Gelora Fahri Hamzah mengaku heran dengan isu PKI dan komunisme yang selalu muncul setiap bulan September.

Keheranan tersebut dilontarkan Fahri Hamzah saat ditanyai warganet soal isu komunis yang akan diisi oleh Fahri Hamzah.

Sebelumnya, Fahri Hamzah akan mengisi diskusi dalam program Gelora Talks yang akan disiarkan pada hari ini pukul 15.30 WIB.

Acara diskusi Gelora Taks ini diketahui merupakan salah satu program Partai Gelora.

Tema yang akan didiskusikan dalam acara Gelora Talks adalah tentang NKRI dan ancaman komunisme.

"Ini diskusi paling seru hari ini. Jangan terlewatkan!" kata Fahri Hamzah.

Salah seorang warganet kemudian menilai isu komunisme sudah tidak relevan lagi untuk dibicarakan.

"Pak Fahri, isu komunis sekarang udah gak laku untuk 'digoreng'. Coba lihat China sekarang. Mereka mengaku komunis, tapi ekonominya lebih kapitalis dari negara kapitalis itu sendiri," ucap akun Twitter @rizkygausp.

Terkait hal tersebut, Fahri Hamzah juga mengaku heran dengan isu PKI dan komunisme yang masih digoreng.

Hal tersebut diutarakan Fahri Hamzah dalam akun Twitter pribadinya @fahrihamzah, seperti dilihat Pikiranrakyat-Bekasi.com pada Rabu, 6 Oktober 2021.

"Justru kita mau jawab pertanyaan kenapa masih digoreng? Kenapa ada yang goreng? Kenapa masih laku? Siapa pembeli gorengan ini? Dogoreng pakai apa kok gurih?" katanya.

"Bungkus pakai apa kok menarik? Dicocol pakai apa kok enak? Ini gorengan musiman atau gak?" katanya.

Untuk informasi, Gatot Nurmantyo sebelumnya mengungkap bahwa ada indikasi tubuh TNI disusupi paham komunisme dan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Paham komunis dan PKI ini, ungkap Gatot, masih ada sampai saat ini meski selalu dibantah oleh berbagai pihak.

Menurut Gatot, bukti nyata PKI ada di tubuh TNI adalah hilangnya patung tokoh nasional di Museum Dharma Bhakti.

pernyataan Gatot soal adanya paham PKI di tubuh TNI disampaikan dalam webinar yang digelar pada Minggu, 26 September 2021.

Gatot mengatakan, seharusnya terdapat diorama yang menggambarkan suasana saat 1 Oktober 1965 atau beberapa jam setelah enam Jenderal dan perwira muda TNI AD diculik PKI.

Seharusnya, lanjut Gatot, ada patung Presiden Soeharto yang kala itu menjabat sebagai Pangkostrad di Museum Dharma Bhakti.

Selain patung Soeharto, patung lain yang disinggung Gatot adalah patung Komandan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) Kolonel Sarwo Edhie Wibowo dan Menteri/Panglima TNI Angkatan Darat Jenderal AH Nasution.

Di sisi lain, Kapten Kostrad Kolonel Inf Haryantana membantah Kostrad mempunyai ide untuk membongkar patung-patung tersebut.

Ia mengungkap, pembongkaran tersebut merupakan inisiatif dari Letjen TNI (Purn) Azmyn Yusri Nasution yang merupakan Pangkostrad ke-34.

Azmyn juga diketahui merupakan orang yang membuat patung-patung tersebut.


s: pikiran-rakyat.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Copy