Partai Pandai Isinya Orang-orang Kontroversial?



IDEANEWSINDO.COM - Partai Negeri Daulat Indonesia (Pandai) besutan Farhat Abbas kini menjadi buah bibir masyarakat karena merekrut penyanyi dangdut Saipul Jamil.

Saiful diketahui baru saja selesai menjalani masa hukumannya sebagai terpidana kasus pelecehan seksual anak di bawah umur.

Perekrutan Saipul ke dalam Partai Pandai sendiri sudah dikonfrimasi langsung Farhat sebagai ketua umum. Hal ini dapat dilihat pada akun Instagram pribadi Farhat yang mengunggah sebuah video. Dalam video tersebut, terlihat ada Farhat bersama sejumlah pengurus partai tengah mengadakan pertemuan dengan Saipul.

Farhat mengaku sengaja merekrut Saipul dengan alasan ingin membantu orang yang sedang terjatuh. Seperti diketahui, Saipul kini tengah menjadi 'musuh masyarakat' lantaran dirinya terkesan tidak tahu malu sebagai pelaku pelecehan seksual anak di bawah umur. 

Saat baru keluar dari penjara, Saipul disambut layaknya orang penting dan bahkan kembali berani tampil di layar kaca. Hal ini menimbulkan kecaman dari banyak pihak terhadapnya.

"Selama kita masih berdiri, cobalah ulurkan tangan kepada orang-orang yang sedang jatuh. Selamat bergabung di Partai Pandai Bang Syaiful Djamil. Tuhan saja Maha Pengampun," tulis Farhat pada unggahan tersebut, dikutip Rabu (27/10/2021).

Farhat sendiri mengakui bahwa partai besutannya tersebut memang berprinsip untuk merangkul berbagai kalangan, termasuk para mantan narapidana. Ia menilai bahwa mantan narapidana, termasuk Saipul Jamil, telah menjalani proses hukum yang berlaku sehingga kesalahan mereka sudah tertebus dan harus dimaafkan. 

Meski begitu, ia mengaku akan mempelajari lebih jauh hak politik Saipul. Sebab, Saipul sendiri sempat terjerat kasus lainnya, yakni kasus tindak pidana korupsi.

"Demikian mengenai hak politik bang Saiful apakah akan bergabung dengan Partai Pandai akan kita pelajari kembali, karena ada kaus korupsi juga. Apakah pasca lima tahun boleh menjadi anggota parpol, nanti kita pelajari," ujar Farhat.

"Tapi menurut saya, siapapun bisa masuk Partai pandai. Insya Allah mudah-mudahan teman-teman maupun keluarga bang Ipul (Saipul Jamil) juga bisa bergabung dengan kita. Termasuk kedaulatan hak asasi kebebasan pasca keluar dari penjara dan mudah-mudahan keadilan berketuhanan itu bisa mas Ipul dapatkan, jangan sampai dihukum dua kali, dihukum berkali-kali hanya karena orang-orang yang tidak mengerti hukum itu," imbuhnya.

Saipul divonis tiga tahun penjara akibat kasus pelecehan seksual pada 2016.  Hukuman Saipul diperberat menjadi lima tahun penjara lantaran terbukti melakukan suap kepada panitera Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Rohadi dengang kas Rp 250 juta. Saipul pun dijatuhi hukuman denda sebesar Rp100 juta subsider 3 tahun penjara, hingga total menjadi 8 tahun penjara.

Partai Pandai sendiri telah dideklarasikan Farhat sejak awal Oktober 2020. Kader partai cenderung diisi oleh sosok-sosok yang dinilai kontroversial, termasuk Saipul Jamil yang kini dikenal sebagai predator seksual dan pedofilia. 

Selain Saipul, ada sosok dr Lois Owien yang menjabat sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Pandai. Lois sendiri merupakan seorang dokter kecantikan yang sebelumnya sempat menggemparkan jagat maya karena kasus penyebaran hoax terkait pandemi Covid-19 sekitar Juni lalu.

Ia mengaku tak percaya dengan keberadaan Covid-19 dan menuding obat-obatan di RS yang justru membunuh para pasien yang terindikasi virus asal Wuhan, China tersebut. Berulang kali ia menyatakan pemikirannya tersebut di sejumlah platform media dan tersebar luas. Lebih jauh, status Lois sebagai dokter bahkan tak terdaftar di IDI (Ikatan Dokter Indonesia), serta Surat Tanda Registrasi (STR)-nya sebagai dokter sudah tak aktif sejak 2017.

Setelah berita bohong yang disebarkannya tersebut menghebohkan masyarakat hingga rumornya memakan korban jiwa akibat termakan pemikirannya, akhirnya Lois dilaporkan ke pihak kepolisian dan ditangkap pada 11 Juli 2021. Ia ditetapkan sebagai tersangka penyebaran hoax Covid-19 dan dijerat pasal berlapis, yakni Pasal 28 dan pasal 45A UU ITE. Meski begitu, ia tidak ditahan karena berjanji tak akan mengulangi hal tersebut dan tidak menghilangkan barang bukti. 

Selanjutnya, posisi Wakil Ketua Umum diduduki oleh Elza Syarief yang juga berperan sebagai pendiri bersama Farhat. Sama halnya dengan Farhat, Elza juga menyandang predikat pengacara kontroversial karena kerap terlibat dengan sejumlah kasus. Pada 2002 silam, Elza pernah dihukum penjara akibat melakukan tindak pidana suap saat tengah menjadi pengacara Tommy Soeharto.

Elza saat itu menyuap dua orang saksi kunci kasus pembunuhan hakim agung Syaifuddin Kartasasmita atas perintah Tommy Soeharto, yakni Rahmat Hidayat dan Tatang Sumantri.

Elza juga kerap bermasalah dengan sejumlah figur publik, seperti dipecat dari Partai Hanura karena mendukung lawan politik mereka, yakni Prabowo Subianto. Ia juga sempat terlibat perseteruan dengan artis Nikita Mirzani.

Adapula Pengacara Razman Arif Nasution yang pernah terlibat dengan polemik internal Partai Demokrat antara kubu Moeldoko dan kubu AHY. Razman saat itu sempat menjadi kuasa hukum pihak KLB Moeldoko sebelum akhirnya digantikan oleh Yusirl Ihza Mahendra. Ia kemudian dianggap melakukan 'pansos' oleh pihak Partai Demokrat karena memanfaatkan situasi kisruh partai untuk kepentingan pribadi.

Sementara Farhat Abbas sendiri juga merupakan sosok yang tidak jauh dari kontroversi. Farhat sudah sejak lama dikenal masyarakat sebagai sosok yang problematik karena berulang kali tersandung masalah. Sebut saja soal perseteruannya dengan Ahmad Dhani beserta putranya, Al dan El yang hampir dibawa Al ke ring tinju. 

Putra dari Pakar Hukum Abbas Said tersebut juga dikenal sebagai sosok yang kerap kali mengomentari hal apapun yang sedang tren, mulai dari selebriti, hingga pejabat dengan cenderung menghujat dan mencari sensasi. Ia bahkan sampai pernah dibawa ke ranah hukum karena dituding berkomentar rasis terhadap eks-Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Adapun Farhat juga terkenal sering kali mengklaim dirinya sebagai calon Presiden RI. Di saat mendirikan Partai Pandai yang masih seumur jagung tersebut pun Farhat sampai menampilkan sebuah poster bergambar dirinya bertuliskan "CALON PRESIDEN 2024 PARTAI PANDAI "MENUJU INDONESIA BERDAULAT".

Sebagai informasi, pada Oktober 2020 lalu, Farhat mendeklarasikan pendirian Partai Pandai yang mengusung visi berserikat menuju Indonesia berdaulat.

"Kita dirikan Partai Pandai murni dari anak bangsa. Kita buat partai organik, mandiri, dan berdaulat. Kita usung sistem partai organik yang sifatnya kedaerahan dan lokal," ujar Farhat beberapa waktu lalu, seperti dilansir dari CNNIndonesia, Rabu (27/10/2021).

Farhat mengaku Parpol tersebut lahir berangkat dari hilangnya peran pengawasan dan keterwakilan partai di DPR akibat disahkannya UU Cipta Kerja (Omnibus Law). Ia menilai bahwa kini para anggota dewan di DPR alih-alih mewakili rakyat, justru malah menjadi bagian dari kekuasaan pemerintah.

"Kita enggak lihat keterwakilan partai-partai pasca-Omnibus itu, enggak ada keterwakilan. Sampai saat ini enggak ada anggota dewan yang menentang kebijakan pemerintah, enggak ada. Karena mereka bagian (kekuasaan) itu," pungkasnya.

s: akurat.co

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Copy