Putri Soekarno Ungkap Penderitaan Usai Sang Ayah Meninggal: Karena Soeharto, Saya Tidak Dapat Melihatnya Hidup



IDEANEWSINDO.COM - Putri Presiden pertama RI Soekarno dengan Ratna Sari Dewi, Kartika Soekarno akhirnya buka suara terkait penderitaannya selama ini setelah sang ayah meninggal dunia.

Dia mengungkapkan bahwa Soekarno dimasukkan ke dalam tahanan rumah pada Maret 1967, hanya berselang beberapa hari setelah dirinya lahir.

Menurutnya, ketika itu sedang terjadi pertumpahan darah di Indonesia dan Soekarno kehilangan banyak teman dan sekutu kepercayaannya.

Setahun sebelum dijadikan tahanan rumah, Soekarno sempat mengirim Ratna Sari Dewi kembali ke negara asalnya, Jepang. Istrinya itu hanya diizinkan kembali ke Tanah Air ketika situasinya membaik.

Sayang, hal itu tidak pernah terjadi hingga Soekarno dinyatakan meninggal pada tahun 1970.

Kartika mengatakan, akibat dari pemerintahan yang lalim dari Presiden kedua RI, Soeharto, dia tidak dapat melihat ayahnya hidup meski sang ibu sudah berulang kali mencoba kembali ke Indonesia.

"Berkat pemerintahan lalim dari Presiden kedua Jenderal Suharto, saya tidak dapat melihat ayah saya hidup, meskipun ibu saya telah mencoba berulang kali untuk masuk ke Indonesia," kata Kartika, dilansir SeputarTangsel.com dari The Guardian pada Senin, 8 November 2021.

Meski kini sudah berusia 54 tahun, Kartika mengaku belum dapat melupakan penderitaan karena memikirkan tahun-tahun di mana ayahnya merasa kesepian selama menjadi tahanan rumah.

Selama itu pula, perawatan medis Soekarno ditolak dan suaranya diredam. Bahkan, sang Proklamator dilarang berkomunikasi dengan anggota keluarganya sendiri.

Sementara itu, Soeharto telah menguasai media massa dan ayahnya.

Lebih lanjut, Kartika menyebut pemerintah Inggris berutang permintaan maaf kepada sang ayah. Dia mengatakan, pemerintah Inggris menginginkan penghapusan Soekarno karena kepentingan bisnisnya, sama seperti apa yang dilakukan Amerika dan sekutu mereka di Indonesia.

Dia menilai, Soekarno telah membuat Inggris marah dengan meluncurkan "konfrontasi" berupa kampanye perbatasan militer terbatas untuk menunjukkan penentangan Indonesia terhadap Malaysia yang baru dibentuk.

Kartika mengungkapkan, hal tersebut dilihat Soekarno sebagai ancaman kolonial.

Menurutnya, nasib tragis bukan hanya dialami oleh Soekarno, tetapi juga jutaan orang Indonesia yang dihancurkan oleh kudeta militer berdarah pada tahun 1965.

Dia meyakini hal itu didukung oleh pemerintah Amerika, Inggris, dan Australia berdasarkan dokumen-dokumen yang baru dibuka kembali.

s:pikiran-rakyat.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Copy