Analisa Rocky Gerung, Ada Megawati dan Jokowi di Balik Persaingan Said Aqil-Yahya Staquf di Muktamar NU



IDEANEWSINDO.COM - Kandidat yang akan berkontestasi dalam Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) makin mengerucut ke dua nama, yakni KH Said Aqil Siradj sebagai incumbent dan KH Yahya Cholil Staquf yang dalam struktur PBNU menjabat Katib Aam.

Dinamika menjelang Muktamar NU yang rencananya akan digelar di Bandar Lampung dan Lampung Tengah pada 17-19 Desember 2021, cukup dinamis. Banyak tokoh tertarik untuk ikut masuk, baik sekadar komentar menganalisa dari jauh hingga yang mendekat.

Selain karena kandidatnya hanya dua, juga karena posisi ketua umum PBNU adalah jabatan prestise yang dimungkinkan banyak pihak yang tarik menarik, terutama kelompok kepentingan politik, karena massa NU yang cukup besar.

Salahsatu yang tertarik mengamati dinamika Muktamar NU adalah pengamat politik, Rocky Gerung. Ia melihat ada tarik menarik orang kuat di balik persaingan antara KH Said Aqil Siradj dan KH Yahya Cholil Staquf. Menariknya, tarik menarik yang terjadi bukan antara dua kutub politik yang kontradiktif.

Sebaliknya, ia melihat Tarik menarik terjadi justru antara Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan Ketua Umum DPP PDIP, Megawati Soekarnoputri. Analisa seperti itu disampaikan YouTube Rocky Gerung.

"Saya membacanya, Muktamar NU itu jadi tarik-menarik antara Presiden Jokowi dan Ibu Megawati, antara istana dengan PDIP. Karena, PDIP hanya punya kepentingan di situ," kata Rocky Gerung.

Lalu, ke manakah dukungan kedua tokoh itu berlabuh di Muktamar nanti? Rocy Gerung melihat,

Megawati atau PDIP cenderung mendukung KH Said Aqil Siradj, sedangkan Presiden Jokowi men-support KH Yahya Cholil Staquf.

“Hal-hal semacam ini yang mau kita analisis. Apa sih sebetulnya politik itu?" sambung Rocky Gerung.

Dalam pandangan Rocky Gerung, tidak perlu harus ada keterbukaan yang dilakukan para tokoh politik untuk komitmen saling dukung dalam melakukan Pemilu.

“Kalau dilakukan dengan sembunyi-sembunyi, ya terus menerus saja sembunyi-sembunyi kan! Enggak usah lewat Pemilu. Namun, kalau mau lewat Pemilu ya dibuka dong supaya ada kejujuran di dalam transaksi awal. Jadi kita hanya bisa menganalisis sambil menduga-duga," kata Rocky.

s: pikiran-rakyat.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Copy