Gawat! Jenderal Kopassus Jadi Target Pembunuhan Gembong Teroris Jaringan Osama bin Laden



IDEANEWSINDO.COM - Gembong teroris yang pernah menimba ilmu di Afganistan dan Filipina Selatan berencana membunuh seorang jenderal Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Aksi pria yang belakangan diketahui sebagai orang kepercayaan Osama bin Laden, sang pentolan Al Qaeda, itu terkuak setelah tertangkap dan diinterogasi.

Gembong teroris tersebut bernama Omar al-Faruq alias Umar Faruq. Lahir di Kuwait dari orang tua asal Irak dengan nama Mahmoud Ahmad Mohammed Ahmad, dia kelak dikenal sebagai tokoh sentral di balik sejumlah aksi teror di Indonesia. Omar Faruq terkoneksi langsung dengan Al Qaeda dan Jamaah Islamiyah Asia Tenggara.

Jalan radikal Faruq muncul ditengarai setelah dia mengikuti khotbah berapi-api dari ulama militan Kuwait, Abu Zeid, tak lama sebelum Perang Teluk 1991. Tanpa diduga dia setuju mengikuti ulama itu pergi ke Peshawar, Pakistan, dengan menggunakan paspor palsu. Dari sana dia ke Kabul, Afghanistan.

“Dalam dua tahun berikutnya, selain berada di tempat pelatihan Al Qaeda di Khaldan, Afghanistan, sesaat dia juga pernah bersama pejuang mujahidin di Tajikistan,” kata Ken Conboy dalam buku ‘Intel: Menguak Tabir Dunia Intelijen di Indonesia’, dikutip Jumat (3/12/2021).

Ken merupakan country manager dari sebuah perusahaan konsultan keamanan di Jakarta. Dia menyusun banyak buku tentang sejarah militer di Asia dan operasi-operasi intelijen, termasuk yang tersohor ‘Spies in Himalaya’.

Dalam buku itu disebutkan, Omar Faruq selanjutnya diberangkatkan ke Filipina. Tujuannya agar dia mendaftar sekolah penerbangan dan menjadi pilot untuk mendukung aksi-aksinya. Namun, meski berulang kali mendaftar, dia selalu ditolak. Faruq lantas pergi dari Manila menuju selatan atau Mindanao untuk bertemu Front Pembebasan Islam Moro (MILF).

Faruq, kata Ken, bukan orang baru bagi militan Filipina. Sebab, beberapa orang sebelumnya telah bertemu di Pakistan. "Namun, sebagian besar waktunya dihabiskan bukan dengan orang-orang Filipina, melainkan Indonesia,” kata dia.

s: sindonews

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Copy