Sejarah Berulang Timnas Indonesia, Terlalu Banyak Kesamaan Antara Piala AFF 2016 dan 2020



IDEANEWSINDO.COM - Sabtu (25/12/2021), generasi baru timnas Indonesia didikan Shin Tae-yong menginjakkan kaki di final Piala AFF, untuk kali keenam sepanjang sejarah.

Sekadar menyegarkan ingatan, terakhir kali timnas Indonesia melaju ke final Piala AFF terjadi pada 2016, kala dibesut Alfred Riedl.

Dibandingkan lima tahun lalu, skuat timnas Indonesia memang cuma menyisakan Evan Dimas Darmono dan Fachruddin Aryanto.

Namun pembaca senior mungkin mafhum, terlalu banyak kesamaan antara timnas Indonesia di Piala AFF edisi 2016 dan 2020.

Jagad media sosial telah memberi contoh momen deja vu di semifinal leg kedua kontra Singapura.

Alur pertandingan Indonesia Vs Singapura di Piala AFF 2020 dengan Indonesia melawan Vietnam di Piala AFF 2016 tidak bisa lebih identik lagi.

Pada edisi 2016, Indonesia bertandang ke Negeri Paman Ho dengan mengantongi keunggulan 2-1 dari leg pertama.

Diteror oleh suporter yang memadati Stadion My Dinh, Indonesia selamat dari babak pertama dengan mencuri gol yang dicetak Boaz Solossa.

Pada babak kedua, Indonesia seakan ditakdirkan melaju ke final setelah insiden di muka gawang Vietnam.

Dimulai dari momen ini, adegan demi adegan akan terulang lima tahun kemudian.

Kiper Vietnam Tran Nguyen Manh diusir wasit dengan kartu merah langsung setelah didakwa memukul Hansamu Yama.

Unggul jumlah pemain akan membuat tim mana pun di dunia tampil lebih kalem, tapi tidak dengan Indonesia.

Vietnam justru kesetanan dan melesakkan dua gol Vu Van Thanh dan Vu Minh Tuan untuk membalikkan keadaan menjadi 2-1. 

Indonesia terpaksa memainkan perpanjangan waktu, yang untungnya dilalui dengan sedikit terkontrol dan dimanfaatkan untuk mencari gol penyeimbang.

Ketika Manahati Lestusen mengeksekusi penalti dengan mulus pada menit 97, kedua tim tahu siapa yang akan melaju ke final.

Sekarang kita berpindah ke adegan lawan Singapura di Piala AFF 2020, saat timnas Indonesia mengalahkan Singapura.

Adegan "kloning" pertama dimulai kala wasit memberi kartu merah untuk Safuwan Baharudin yang menyentuh Rizky Ridho dalam situasi bola mati.

Sama seperti di edisi 2016, Indonesia justru tampil tak karuan saat unggul satu gol dan satu pemain, yang berakibat bobol dua kali. 

Kebobolan pertama terjadi tepat setelah kartu merah Safuwan, disusul gol tendangan bebas Shahdan Sulaiman pada babak kedua.

Untung saja Indonesia tertolong gol berbau offside oleh Pratama Arhan, dan terbantu pula penyelamatan Nadeo Argawinata dari penalti Faris Ramli.

Deja vu semakin terasa pada pengujung laga, saat kiper Singapura Hasan Sunny diganjar kartu merah.

Baik Vietnam pada 2016 maupun Singapura pada 2021 sama-sama memainkan pemain outfield di akhir laga.

Apakah kesamaan hanya ada di alur pertandingan saja? Tentu saja tidak.

Piala AFF 2016 dan 2020, betapa pun berbeda formatnya, digelar dalam keadaan sepak bola Indonesia yang baru pulih dari luka.

Bisa dikatakan demikian, lantaran pada edisi 2016, sepak bola Indonesia baru pulih dari luka akibat sanksi FIFA.

FIFA menjatuhkan sanksi kepada PSSI pada 2015 dan baru diangkat setahun kemudian.

Piala AFF 2016 adalah turnamen internasional pertama yang diikuti timnas Indonesia pasca sanksi tersebut.

Kompetisi dalam negeri kadung digelar dalam tajuk Indonesia Soccer Championship yang tak dihitung kompetisi resmi dan tanpa degradasi. 

Biarpun begitu, klub-klub sangat serius mengikutinya, sampai-sampai tak mau pemainnya dipanggil timnas Indonesia.

Ya, pelatih Alfred Riedl dipaksa hanya memanggil paling banyak dua pemain per klub.

Kekuatan timnas Indonesia tergerus, kompetisi jalan terus.

Dengan kekuatan terbatas itu, Alfred Riedl nyatanya bisa membuat Garuda terbang lebih dari yang seharusnya.

Lolos dari fase grup, menyingkirkan Vietnam di semifinal, berlanjut lolos ke final berjumpa Thailand.

Melawan negara terbaik Asia Tenggara, Andik Vermansah dan kawan-kawan tak bisa menembus batas lagi, keok dengan skor agregat 2-3. 

Kini di 2021, Indonesia juga menghadapi Piala AFF 2020 dalam keadaan sembuh dari luka berwujud pandemi Covid-19.

Bukan sekadar menghilangkan berjuta kehidupan, pandemi Covid-19 juga membekukan aktivitas sepak bola Indonesia.

Sama seperti saat disanksi FIFA lima tahun sebelumnya, kompetisi negeri ini juga tak bergulir.

Pelatih Shin Tae-yong nyaris "menganggur" karena Liga 1 mandek dan pertandingan internasional tak digelar.

Baru pada paruh kedua 2021, Liga 1 bisa bergulir, dengan timnas Indonesia dihadapkan agenda Piala AFF 2020.

Lantaran Liga 1 2021/22 tetap dihelat bersamaan dengan Piala AFF, Shin Tae-yong pun bernasib seperti Riedl dengan menerima pembatasan pemanggilan pemain per klub.

Mulanya Shin Tae-yong dibatasi dua pemain per klub, tetapi belakangan direvisi karena Liga 1 diliburkan mendadak, dan angka batasan naik menjadi tiga pemain.

Dengan segala keterbatasan itu, Shin Tae-yong tetap bisa membawa Indonesia melaju ke final Piala AFF 2020. 

Bahkan duel di final pun sama persis: Indonesia menghadapi Thailand.

Sejarah sungguh berulang, tetapi publik Indonesia tentu tak ingin Shin Tae-yong mengakhiri Piala AFF sama seperti lima tahun silam. 

s; bolasport.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Copy