Acara Puncak Berdzikir di Masjid Attaawun Ricuh dan Tanpa Izin, Panitia Terancam Sanksi Denda



IDEANEWSINDO.COM - Panitia acara 'Puncak Berdzikir X' di Puncak Bogor kawasan Cisarua, Kabupaten Bogor pada Minggu (2/1/2022) malam lalu terancam kena sanksi denda.

Pihak penyelenggara dzikir akbar ini tetap menggelar acara yang mendatangkan banyak massa di halaman parkir Masjid Atta'awun Puncak Bogor meski belum dapat izin dari Satgas Covid-19.

Bahkan acara ini juga sempat ricuh serta mendapat penjagaan dari petugas.

Sanksi Denda Tengah Dibahas Satgas Covid-19

Kapolres Bogor AKBP Harun mengatakan bahwa terkait sanksi denda itu kini tengah dibahas bersama jajaran Satgas Covid-19 Kabupaten Bogor.

"Kita masih menyelesaikan dengan Ketua Satgas Covid-19 masalah evaluasi kemarin itu. Iya (sanksi denda)," kata AKBP Harun kepada wartawan di Mako Polres Bogor, Selasa (4/1/2022).

Dia menjelaskan bahwa sejak sebelum acara dzikir bersama itu digelar, pihaknya sudah melakukan langkah-langkah antisipasi.

Termasuk melakukan komunikasi persuasif dengan panitia acara.

Massa yang berdatangan ke lokasi juga sebagian berhasil dibendung karena diberlakukannya sistem satu arah atau one way arah Jakarta.

"Kita berlakukan one way sehingga banyak yang ketahan. Memang itu setiap hari Minggu kita berlakukan one way. Pas kebetulan one way tersebut, akhirnya tidak terlalu (banyak massa) lah. Kalau lihat di situ, massanya kan di parkiran, gak terlalu," kata Harun.

Penjelasan Bupati Bogor

Diberitakan sebelumnya, Bupati Bogor Ade Yasin menjelaskan bahwa pihak panitia 'Puncak Berdzikir' ini awalnya meminta izin acara tanggal 30 Desember 2021 namun dilarang, tapi kemudian acara tetap digelar pada tanggal 2 Januari 2022.

Ade Yasin bersama Kapolres Bogor dan Dandim 0621 pun turun menemui pihak panitia beberapa jam sebelum acara digelar.

"Karena memang mereka juga sudah tidak bisa lagi dimundurkan, akhirnya kami melaksanakan komunikasi secara persuasif," kata Ade Yasin.

Ade mengatakan bahwa di lokasi acara sudah terlanjur dipasang panggung, lampu-lampu dan lain-lain.

Bahkan massa peserta acara itu pun sudah ramai berdatangan berkumpul sejak sore di lokasi beberapa jam sebelum acara digelar.

Kemudian akhirnya diputuskan bahwa acara dzikir ini tidak dibubarkan demi menjaga kondusifitas.

"Akhirnya kita komunikasi untuk bagaimana supaya itu tidak banyak orang yang hadir dan tertib," kata Ade.

Pembatasan jumlah massa acara dzikir ini dilakukan oleh barisan aparat gabungan dengan cara memblokade gerbang masuk agar massa yang sudah ada di dalam area acara tidak membludak.

Namun untuk beberapa orang tertentu seperti tokoh-tokoh tetap diperbolehkan masuk ke lokasi acara meski gerbang sudah diblokade.

Selain itu, lamanya durasi acara juga dipercepat dari yang biasanya sampai pukul 02.00 WIB bahkan subuh, kali ini disepakati sampai pukul 22.00 WIB.

"Jadi daripada tidak kondusif ketika kita bubarkan karena memang sudah banyak massa di sana, akhirnya kita minta untuk meminimalisir waktu. Kita minta ke panitia prokes tetap dijalankan secara ketat, jam 22.00 WIB harus sudah selesai," kata Ade.

Selama berlangsung, kata Ade, kegiatan tersebut juga terus dipantau.

"Daripada tidak terarah karena kita biarkan akhirnya melanggar prokes. Akhirnya saya dengan Pak Kapolres, Pak Dandim turun ke sana untuk meminimalisir kejadian-kejadian yang tidak diinginkan. Kita pantau kegiatan tersebut," ungkapnya.

Pantauan TribunnewsBogor.com, kericuhan terjadi sekitar pukul 20.45 WIB saat acara tengah berlangsung.

Awalnya ada tokoh berpakaian serba putih hendak masuk ke area lokasi acara dzikir dan terlibat percakapan dengan petugas.

Akhirnya petugas mengizinkan masuk kemudian barisan tameng blokade aparat di pintu gerbang masuk sedikit dibuka dan terlihat beberapa orang masuk.

Saat itu ada barisan massa yang mengikutinya dari belakang yang turut mencoba ikut masuk namun blokade petugas langsung kembali ditutup demi mengatur keramaian di dalam area acara.

Sontak saling dorong pun tak terhindarkan antara petugas dan peserta yang gagal masuk tersebut.

"Woy.. woy.. woy..!," suara riuh mewarnai aksi saling dorong tersebut.

Saling dorong terjadi beberapa saat sampai akhirnya pihak panitia acara sendiri pun turun tangan berupaya menenangkan massa yang gagal merangsek masuk tersebut.

Situasi kemudian berangsur tenang setelah pihak panitia juga berupaya meredam situasi melalui pengeras suara.

Diketahui, acara Puncak Berdzikir ini merupakan agenda rutin yang kali ini digelar sekaligus memperingati milad ke-1 Front Persaudaraan Islam (FPI).

Acara ini tetap digelar meski tak dapat izin dari Satgas Covid-19 Kabupaten Bogor.

Pihak pemerintah pun dikabarkan sempat melakukan mediasi terkait tetap digelarnya acara tersebut.

Aparat gabungan pun melakukan pengamanan di lokasi dengan memblokade akses massa di pintu gerbang masuk untuk mengurangi keramaian di lokasi acara.

s; tribunnews.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Copy