VIDEO Putra Diperas Rp 25 Juta, Diancam Pakai Ular Kobra, Dituduh Gelapkan Mobil Dibekingi Polisi



IDEANEWSINDO.COM - Warga Dusun VIII Cempaka, Kecamatan Percut Sei Tuan, Putra Arisandi Hasibuan mengadukan kasus penganiayaan sampai pemerasan yang dilakukan warga dan diduga didekingi oknum polisi dari Polsek Hamparan Perak ke Polrestabes Medan.

Sebelum mengalami kejadian nahas tersebut, Putra pun membeberkan kronologisnya kepada Tribun Medan saat ditemui di Jalan Wahid Hasyim, Jumat (4/2/2022).

"Awal ceritanya saya dihubungi teman bernama Indra yang menawarkan take over mobil kepada orang lain. Indra adalah agen dari pemilik mobil merk Ertiga bernama Janri," kata Putra.

Dia mengatakan komunikasi itu berlangsung pada November 2021. Putra menyebutkan kebetulan temannya yang juga bekerja sebagai ojek online menginginkan mobil tersebut.

Temannya Putra itu bernama Zulfikar Nasution alias Zul. Putra memberitahu harga mobil yang ditawarkan sebesar Rp 20 juta dengan angsuran Rp 3,5 juta dalam waktu 3 tahun ke depan.

Diketahui angsuran mobil itu sudah berlangsung sekitar 1 tahun lebih. Zul menyepakati harga itu kepada Putra dan ingin melihat kondisi mobil.

Tak lama, berjumpa lah Indra, Bobby (teman Indra yang juga agen), Zul, teman Zul, serta seorang mekanik bengkel.

Mobil itu diperiksa dan proses tawar menawar berlangsung. Kedua belah pihak deal harga di angka Rp 20 juta seperti penawaran di awal.

Zul memberikan uang muka sekitar Rp 2-4 juta kepada agen tersebut. Kemudian sisanya ditarik dari bank terdekat dan diberikan kepada Bobby yang memberikan uangnya kepada Indra.

Total yang diberikan Zul kala itu sekitar Rp 12 juta. Sorenya, Zul minta berjumpa langsung dengan pemilik mobil, Janri.

Bobby menolak dan mengatakan pihaknya yang akan langsung menjumpai Janri. Zul sempat menolak dan berkeinginan bertemu langsung dengan Janri.

Akhirnya, Zul disuruh menunggu di SPBU Simpang Pemda. Sementara Putra diminta Zul ikut bersama para agen untuk berjumpa dengan Janri membicarakan perihal tersebut.

Putra bersama para agen itu datang la menjumpai Janri. Setelah kesepakatan berjalan mulus, Putra memberitahu kepada Zul dan mengatakan transfer uang Rp 8 juta lagi agar genap Rp 20 juta.

Kemudian uang tersebut diserahkan Bobby kepada Janri sebesar Rp 10 juta. Sementara Rp 10 juta lagi dibagi untuk agen dan dirinya.

Lalu Putra katakan Janri memberikan bukti kwitansi dan bukti pembayaran cicilan mobil terakhir ke dealer.

Setelah itu, Putra menjumpai Zul dan pulang ke rumah masing-masing. Dari transaksi itu, Zul hanya mendapatkan satu kunci mobil, kwitansi, bukti pembayaran, dan STNK.

Pada Desember 2021, Zul mulai membayarkan cicilan mobil sebesar Rp 3,5 juta. Masalahnya pada Januari 2022 rupanya Zul tidak membayarkan cicilan mobil.

Zul beralasan kepada Putra hal itu dilakukannya karena kunci kedua mobil itu belum diberikan Janri. Putra komunikasikan hal itu kepada Janri dan memang belum ingin memberikan sebelum pindah nama.

Sementara Zul dinasehati orangtuanya kalau mobil tersebut seperti barang bodong karena tidak punya berkas-berkas. Zul disuruh orangtunya mengembalikan mobil kepada Janri.

Selang berapa waktu lama, Putra mendapat kabar mobil itu sudah di take over Zul kepada pihak lain yang disebut pak Haji.

Zul bilang ke Putra mobil itu di take over sekitar Rp 40 juta. Bukti transferan itu diberikan kepadanya. Ia katakan alasan Zul kala itu karena takut mengambil mobil tanpa surat dan kondisinya juga rusak.

Setelah itu, pihak Janri menelepon ke Indra kenapa Zul belum bayar angsuran Januari 2022. Indra menelepon Putra perihal itu. Putra menghubungi Zul dan kala itu masih belum mengaku mobil itu sudah di take over.

Akhirnya masalah itu semakin rumit dan baru Zul beritahu ke putra mobilnya sudah di take over. Putra langsung sarankan Zul memberitahukan kepada Janri soal itu.

Zul kemudian berjumpa dengan Janri serta para agen sebelumnya yang terlibat melakukan transaksi. Tapi pertemuan itu sepertinya tak menemukan titik temu.

Kamis, 27 Januari 2022, Putra ditelepon untuk berjumpa bersama para agen dan Janri. Tetapi saat itu Putra sedang bekerja membawa penumpang ke Kota Pinang.

Dia katakan Sabtu, 29 Januari 2022, saja berjumpa dengan pihak agen dan Janri. Pada malam itu Putra mengaku masih berkomunikasi dengan Zul yang mengatakan mau membawa tamu ke Batubara.

Putra sarankan Zul jangan dulu membawa penumpang sebelum masalah itu selesai. Besok paginya, nomor Zul sudah tidak aktif. Sedangkan Putra terus diteleponi Indra untuk meminta kejelasan.

Karena ia merasa tak bersalah, dirinya pun berjumpa dengan Indra serta Bobby di warung kopi sekitar Gajah Mada Medan sekitar pukul 11.00 WIB. Ia datang bersama istri dan anaknya.

Janri kala itu masih belum datang tepat waktu. Sehingga Putra mengantarkan dahulu istrinya ke pasar kemudian datang lagi sekitar pukul 12.00 WIB lewat.

Kondisi berubah. Terlihat banyak orang yang berada di dekat Indra serta Bobby. Jumlahnya sekitar 5 orang.

Putra tiba-tiba diinterogasi. Putra dituduh menggelapkan mobil tersebut. Tetapi ia terus membantah tudingan itu. Putra bilang mobil itu bersama Zul dan tidak tahu menahu di bawa kemana.

Handphone Putra disita dan diperiksa oleh beberapa orang yang ada dihadapannya.

Dia disuruh mengakui memiliki keterkaitan dengan Zul untuk menggelapkan mobil.

Putra bahkan dituduh sindikat penggelapan mobil bersama Zul. Ia membantah dan mengatakan tidak mengetahui soal mobil terebut dibawa kemana.

Putra mendapat pukulan dari orang yang menanyainya. Badan dan wajahnya dipukul pakai handphone oleh orang bernama Raka. Tak lama ia menelepon istrinya dan memberitahu kondisi yang dialaminya.

Istrinya datang berbarengan dengan kedatangan Janri bersama dua orang lain yang tak dikenalnya.

Istrinya berusaha membawa Putra pergi, tetapi dihambat oleh sekumpulan orang itu.

Tak lama, istrinya kembali lagi ke pasar karena anaknya ditinggalkan di sana. Sewaktu istrinya pergi, Putra dibawa kabur atau diduga diculik oleh sekumpulan orang tersebut dengan mobil jenis Xenia putih.

Di dalam mobil, Putra dikatakan akan dibawa daerah Nibung. Ia diancam mau dibawa ke markas dan didinginkan. Merasa terancam, Putra berpikiran untuk kabur.

Ia membuka pintu mobil dan mencoba lari. Tak berapa langkah keluar dari mobil ia ditabrak sepeda motor dari belakang yang merupakan kawan dari sekelompok orang tersebut.

Putra kemudian diteriaki rampok lalu dipukuli oleh orang yang menculiknya kemudian dimasukkan kembali ke dalam mobil.

Wajahnya babak belur kala itu. Putra dibawa ke rumah abang Bobby di daerah Tanjung Gusta. Dia didudukan dan diinterogasi lagi. Dia diancam dan kembali dipaksa mengakui menggelapkan mobil itu.

Kepalanya dipukuli oleh abang Bobby serta orang lainnya. Dia diancam dengan ular Cobra yang rupanya berada di dalam kotak yang menjadi tempat duduknya.

"Saya diancam, kalau ular itu matok, aku dibuang ke sana. Saya dibilang mengakui saja terlibat dalam penggelapan mobil. Saya diancam lagi akan didatangkan Polisi dari Hamparan Perak. Berdasarkan pembicaraan mereka namanya berinisial J," sebutnya.

Setelah itu, Putra digiring ke Polsek Hamparan Perak sekitar pukul 18.00 WIB. Di dalam perjalanan Putra diancam oleh oknum yang mengaku dari BNN.

Pihak yang mengaku BNN mengatakan apakah Putra mau damai. Terlihat ada atribut BNN yang dikenakan oknum tersebut. Dibilang kalau Putra sampai di Polsek Hamparan Perak akan didinginkan.

Tetapi bila ingin damai, Putra akan dibantu diproses. Karena merasa tersudutkan dan merasa terancam, ia mengalah. Putra mengikuti alur dari oknum itu.

Oknum BNN itu tak lama telepon diduga polisi dari Polsek Hamparan Perak berinisial J bahwa Putra mau berdamai. Alhasil Putra dibawa ke Polsek Hamparan Perak.

Kala itu, Putra di dalam ruangan. Ada polisi mengatakan padanya kalau tak diamankan ke ruangan itu, Putra akan babak belur. Tak lama Putra dimintai uang Rp 25 juta untuk berdamai.

Sepakat dengan itu, Putra pun disuruh buat surat penyataan atau perjanjian bahwa dirinya berjumpa dengan Janri untuk menyelesaikan persoalan mobil dan tidak ada unsur penganiayaan serta pemerasan.

Pernyataan itu harus ditandatangani di atas materai. Di surat lainnya, ia disuruh tandatangani penyataan bahwa menggelapkan mobil tersebut.

Setelah itu, Handphone Putra diserahkan. Putra menyuruh istrinya mencari yang Rp 25 juta. Istinya bilang tidak ada uang sebanyak itu.

Sampai pukul 21.30 WIB, Putra dipaksa kalau tak dapat uangnya akan dijemput oleh pihak Polrestabes Medan.

"Istri saya bilang bisa Rp 10 juta. Lalu orang itu setuju dengan syarat nanti buat pernyataan lagi akan membayar sisanya," sebutnya.

Karena mau pergantian shift, Putra dibawa lagi ke rumah abang Bobby di Tanjung Gusta. Sesampainya di rumah abang Bobby, Putra disuruh hubungi istrinya segera bawa uangnya dan jangan bawa siapa-siapa.

Rupanya istrinya bilang hanya dapat Rp 8,5 juta dan dikatakan tidak apa-apa. Istrinya pun datang bersama mertuanya.

Tak disangka, keluarga dari mertuanya juga ikut yang merupakan tentara sebanyak 2 orang.

Orang yang mengintimidasinya pun terkejut atas kedatangan keluarga dari Putra.

Sempat hal itu dipertanyakan kepada Putra. Ia merasa takut kemudian menghampiri mertuanya dan mengatakan menyudahi masalah tersebut.

Keluarganya yang tentara pun langsung merangkul Putra untuk pulang. Bobby tak lama menyarankan Putra untuk pulang dan istirahat terlebih dahulu dan melanjutkan perbincangan esok hari.

Uang Rp 8,5 juta itu pun tak jadi diserahkan. Janri pun memperbolehkan Putra pulang untuk menenangkan diri dahulu.

Sewaktu perjalanan pulang, Putra mengakui kepada istrinya memang benar dipukuli oleh pihak yang tadi menculiknya.

Malam itu, Putra langsung ke Polrestabes Medan untuk membuat laporan atas kejadian yang dialaminya. Setelah itu, ia melakukan visum di RS Bhayangkara.

Luka yang dialaminya, di pelipis mata, muka lebam, bibir pecah, belakang kepala biru-biru, serta beberapa badan terasa sakit.

Pemukulan yang dialaminya menggunakan tangan dan handphone. Sementara pihak polisi yang ada dilihatnya memang tidak melakukan pemukulan hanya saja menyaksikan.

"Harapannya kasus ini tidak terjadi lagi dan yang bersalah segera ditindak. Karena saya sampai sekarang masih terasa diancam. Saya masih dihubungi mereka sampai sekarang," sebutnya.

"Si Indra pun terakhir sempat menghubungi untuk menyelesaikan soal ini secara damai. Serta mencari bersama sama biang keroknya yakni Zul. Ada bukti chatnya. Janri juga mengusulkan untuk berjalan damai. Saya harap polisi menindak," tambahnya.

Putra melapor dengan nomor : STTLP/345/I/YAN.2.5/2022/SPKT/Polrestabes Medan.

Di lain pihak, Edy selaku abang dari istri Putra membenarkan pula pihaknya juga turut menjemput Putra sewaktu disekap di Tanjung Gusta.

Edy yang bekerja sebagai tentara mengatakan saat itu menggunakan baju bebas dan memang datang semata-mata karena tidak terima keluarganya sampai disekap dan dituduh menggelapkan mobil.

"Ya saat itu saya ikut hadir bersama satu teman juga dari tentara. Saya lihat wajah Putra saat itu sudah babak belur. Jadi kami langsung bawa untuk dirawat dulu ke rumah sakit. Setelah itu membuat laporan ke Polrestabes Medan," sebutnya.

Di samping itu, terkait dengan keterlibatan polisi Polsek Hamparan Perak, Tribun Medan masih coba berkomunikasi dengan Kapolsek Hamparan Perak Kompol E. Simamora.

Namun sampai saat ini, Kompol E. Simamora masih belum bisa dikonfrimasi terkait persoalan yang menimpa Putra tersebut.

s: tribunnews.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Copy