Dihardik Raja Intel Indonesia, Luhut Pandjaitan Ciut Nyali



IDEANEWSINDO.COM - Berkarier lebih dari 30 tahun di militer memberikan segudang pengalaman dan kesan bagi Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi ( Menko Marves ) Jenderal TNI (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan . Tidak hanya baku tembak dan deru senjata di medan pertempuran, namun juga pelajaran moral berharga dari para seniornya.

Salah satu yang tak akan dilupakan yakni hubungannya dengan mendiang Panglima ABRI Jenderal TNI Leonardus Benyamin Moerdani. Bagi Luhut, tentara yang dikenal sebagai Raja Intelijen Indonesia tersebut mengukirkan kenangan mendalam. 

"Almarhum Pak Benny saya kagumi sejak saya masih perwira menengah TNI-AD. Saya mulai kenal beliau sejak saya berpangkat Mayor, sebelum saya bersama Kapten Inf Prabowo Subianto dikirim untuk belajar mengenai pasukan anti-teror di GSG-9 di Jerman Barat.," kata Luhut dalam tulisan bertajuk ‘Tiba-tiba Saya Teringat Pak Benny’ yang diunggah di akun resmi Facebook miliknya seperti dikutip, Jumat (25/3/2022).

Luhut menceritakan, kala itu Benny Moerdani berpangkat Letjen dan menjabat Asintel Hankam/ABRI. Kendati berpangkat jauh lebih tinggi darinya, dari waktu ke waktu Benny selalu minta dirinya memberikan laporan kemajuan sekolahnya. Benny, kata dia, bahkan tidak malu meneleponnya dan mengajukan pertanyaan yang mendetail.

Seusai menuntaskan pendidikan di Jerman, Luhut memimpin pasukan anti-teror pertama di Indonesia yaitu Detasemen 81 (Den-81) Kopassus. Dia pun semakin sering dipanggil menghadap Benny di kantornya, Jalan Sahardjo (sekarang menjadi Balai Prajurit TNI). Benny makin intensif mengajak berdiskusi, mulai pelatihan pasukan Den-81 maupun lainnya.

“Dari situ saya mendapat kesan khusus mengenai betapa ia memiliki karakter yang sangat kuat. Auranya memancarkan wibawa ditambah dengan wajahnya yang keras dan jarang tersenyum,” tutur Luhut.

Dibentak Benny

Bagi perwira menengah, kerap diajak berdiskusi oleh jenderal tentu sebuah kebanggaan. Terlebih ketika itu karier Benny telah melesat dan menjadi Panglima ABRI sekaligus orang kepercayaan Soeharto. Namun jika terlalu sering dipanggil, justru akan menimbulkan kegelisahan. Begitu pula yang dirasakan Luhut.

Akibat sering dipanggil ke kantornya, lama-kelamaan dia menjadi risih. Kebanggaan dipanggil oleh Panglima ABRI mengecil, karena pasti banyak yang tahu. Luhut berpikir, hal itu juga akan menjadikan para seniornya tidak senang, atau mungkin juga iri.

s; sindonews.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Copy