Guru Agama di Sumut Lakukan Pelecehan Se*sual 2 Siswi di Ruang Kelas Saat Sepi



IDEANEWSINDO.COM - Seorang guru agama di Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara diduga melakukan pelecehan seksual terhadap siswinya.

Guru agama SD berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) inisial SH (47) tersebut kemudian dilaporkan ke polisi.

Sementara, korbannya berjumlah 2 orang.

Kasus ini bermula saat pelaku dilaporkan orangtua korban ke Polres Taput pada Jumat (18/3/2022) kemarin.

Korban dilecehkan di ruang kelas saat situasi tengah sepi.

Menurut pengakuan korban, aksi pelecehan dilakukan pada Desember 2021 lalu.

Kala itu, korban dipanggil untuk mengantarkan teh manis.

Di dalam ruang kelas, korban kemudian dilecehkan dengan cara diraba-raba bagian dadanya.

Mendengar pengakuan itu, ibu korban kaget dan begitu marah.

Pelaku beralasan, hal itu dilakukan agar cepat tumbuh besar.

Kasubbag Humas Polres Taput Aiptu Walpon Baringbing membenarkan kasus ini.

Kini polisi sudah menahan dan menetapkan SH sebagai tersangka.

"Ia yang berinisial SH dilaporkan karena diduga melakukan pelecehan terhadap dua orang siswanya. Resmi ditetapkan sebagai tersangka dan sudah ditahan penyidik Reskrim unit PPA Polres Taput," katanya pada Jumat (25/3/2022).

"SH dijemput dari rumahnya pada Kamis (24/3/2022) pukul 10.00 WIB dan dilakukan pemeriksaan hingga malam hari. Setelah selesai diperiksa sebagai saksi, Jumat (25/3) pukul 01.00 WIB dinihari SH ditingkatkan statusnya sebagai tersangka dan langsung ditahan untuk penahanan pertama 20 hari kedepan," sambungnya.

Aiptu Walpon mengatakan, bahwa kejahatan tersangka SH sudah dilengkapi dengan bukti-bukti dan data-data yang dibutuhkan.

"Peningkatan status sebagai tersangka oleh penyidik Unit PPA (Perlindungan Perempuan dan Anak) bahwa perbuatan percabulan yang dilakukan oleh SH telah ditemukan bukti permulaan yang cukup dan didukung dengan dua alat bukti lain berupa keterangan-keterangan saksi serta bukti petunjuk, sehingga penyidik berkesimpulan SH dijadikan tersangka dan resmi ditahan," sambungnya.

SH bakal mendapatkan hukuman penjara selama antara 5 hingga 15 tahun.

"Atas perbuatan yang dilakukan oleh SH, kepadanya dipersangkakan melanggar pasal 76E Yo Psl 82 ayat( 1)(2)(3) dan (4) UU RI tahun 2016 tentang Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang No 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman Minimal 5 Tahun dan Maksimal 15 Tahun Penjara," katanya.

s; tribunnews.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Copy