Ironi Pawang Hujan: Jadi Bintang di MotoGP, Dihujat dan Dipermalukan di Twitter



IDEANEWSINDO.COM - Pawang hujan Rara Istiani Wulandari menjadi bagian tak terpisahkan dari sukses perhelatan MotoGP Mandalika 2022 , Minggu (20/3) kemarin.

Rara menjadi sorotan dunia ketika menjalankan aksinya mengusir hujan keliling Sirkuit Mandalika. Aksi Rara membuat suasana sirkuit menjadi meriah. Para penonton berteriak memberikan dukungan ketika ia berjalan di sepanjang sirkuit.

Mengapa? karena suasana saat itu sangat tegang. Balapan yang seharusnya dimulai pukul 14.00 WIB tertunda satu jam lantaran hujan semakin deras.

Setelah Rara menjalankan aksinya--terlepas dari kebetulan ataupun tidak--hujan deras berlahan-lahan menjadi gerimis. “It works! (berhasil!),” cuap akun resmi MotoGP.

Akhirnya pit lane akhirnya dibuka pada pukul 15.00 WIB satu per satu pembalap keluar dari paddock untuk melanjutkan balapan. Balapan akhirnya tetap bisa berjalan meski hujan tidak benar-benar berhenti.

Sontak aksi Rara ini menjadi viral. Tidak hanya di media sosial, tetapi juga media asing, akun media sosial para pembalap, juga akun resmi MotoGP. ”Terima kasih telah menghentikan hujan!,” tulis akun resmi MotoGP. Akun tersebut juga sempat memajang video Rara dengan tulisan “The Master”.

Meski demikian, tidak sedikit juga warganet yang menghujat aksi Rara dianggap memalukan. Bahkan, aksi pawang hujan MotoGP Mandalika 2022 itu membuat kata “memalukan” menjadi trending topik di Twitter dengan lebih dari 18 ribu cuitan.

”Tadinya ingin mendukung perhelatan MotoGP , berhubung ada konten kelenik seperti ini jadi malu sendiri,” cuit @EnggalPamukty ketus.

”Di era digital masih percaya dukun. Hanya orang bodoh yang masih percaya dukun. Hanya Tuhan yang mengatur segalanya, termasuk cuaca. Memalukan!” cuit @suryantost.

Meski demikian, ternyata sebagian besar cuitan warganet justru memberikan pembelaan.

”Tadinya sempat ngetawain. Tetapi, akhirnya sadar bahwa itu adalah salah satu cara memperkenalkan budaya Indonesia yang sangat beraneka ragam ini ke dunia,” cuit @Edwardhaqi.

”Indonesia ini memiliki latar belakang budaya yang beraneka ragam. Pawang hujan tersebut merupakan salah satu representasinya. Sebagai bentuk kearifan lokal,” tambahnya.

”Orang modern orang paling agamais sok-sokan menertawakan menghakimi pawang hujan dengan dalih syirik, memalukan, dan lainnya. Profesi ini, terserah berhasil atau tidak, biarkan mereka memegang kepercayaannya. Toh profesi pawang hujan punya sejarah panjang sendiri,” bela @araymu.

”Memalukan? Enggak juga. Buat saya ini marketing. Ini kearifan lokal. Soal hujannya? Ya namanya hujan pasti akan reda. Tetapi dunia memberi perhatian besar kepada hal-hal yang unik, ini promosi yang sangat bagus untuk ajang MotoGP Indonesia,” beber @emnurhaikal.

s; sindonews.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Copy