Situasi Memanas, Rusia Usir Duta Besar AS dari Moskow, Sebut Hubungan 2 Negara di Ambang Kehancuran



IDEANEWSINDO.COM - Rusia telah mengumumkan pengusiran sejumlah diplomat Amerika Serikat (AS) dari negaranya.

Hal ini merupakan balasan atas pendeportasian 12 staf Moskow untuk PBB, di New York, atas perintah AS.

Sementara itu, situasi antara Rusia dan AS dikabarkan semakin memanas seiring ekskalasi konflik di Ukraina.

Dikutip TribunWow.com dari Russia Today, Jumat (25/3/2022), Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan bahwa pihaknya telah memanggil seorang diplomat senior AS di Moskow.

Kemudian pemerintah memberinya catatan berisi daftar karyawan diplomatik Amerika yang akan dideportasi dan dinyatakan dengan status 'persona non grata' (orang yang tidak diinginkan).

Kementerian menjelaskan bahwa itu adalah pembalasan atas pengusiran diplomat Rusia dari misi PBB dan seorang karyawan Rusia dari Sekretariat PBB.

"Pihak Amerika dengan tegas diberitahu bahwa setiap tindakan bermusuhan Amerika Serikat terhadap Rusia akan menerima tanggapan yang tegas dan memadai," bunyi pernyataan itu.

Washington memberi tahu Moskow tentang keputusannya untuk mendeklarasikan 12 diplomat Rusia sebagai persona non grata pada akhir Februari.

AS mengklaim orang-orang Rusia yang diusir telah terlibat dalam kegiatan spionase yang merugikan keamanan nasional kita.

Moskow mengutuk keputusan itu, dan menyalahkan Washington atas pelanggaran berat terhadap komitmen bersama.

Rusia menyerukan agar pejabat AS menunjukkan akal sehat untuk menghindari konflik lebih lanjut.

Kementerian Luar Negeri kemudian mengatakan bahwa mereka sejatinya memilih untuk tidak mengusir diplomat Amerika lagi.

Namun kelancangan dan keengganan AS untuk bernegosiasi membuat pihaknya tak memilikipilihan lain.

Seminggu sebelumnya, AS juga memerintahkan pengusiran diplomat tertinggi kedua di kedutaan Rusia di Washington, Sergey Trepelkov.

Akhir tahun lalu, AS memerintahkan 27 dari 200 diplomat Rusia untuk pergi.

Kementerian Luar Negeri Rusia pun menyebut relasi antara Moskow dan Washington saat ini sedang berada diambang keruntuhan.

AS Disebut Sudah Mulai Perang Lawan Rusia

Mantan staf operasional CIA, Brian Dean Wright, menyatakan bahwa sejatinya Amerika Serikat (AS) telah mengobarkan perang melawan Rusia.

Ia menyinggung tiga tindakan pemerintahan Joe Biden yang menunjukkan hal tersebut.

Antara lain adalah keberpihakan AS terhadap Ukraina dengan sejumlah bantuan materi dan taktis melawan Rusia.

Hal ini diutarakan dalam tayangan wawancara di kanal YouTube Fox News, Minggu (19/3/2022).

Wright menyatakan bahwa tindakan yang dilakukan AS dalam perang Rusia-Ukraina bisa disamakan dengan deklarasi perang.

Mengesampingkan perselisihan dua kubu, Wright mengajak masyarakat untuk menilik secara jernih dan objektif.

Menurut Wright, AS telah melancarkan tiga hal yang dikategorikannya sebagai penyerangan.

Pertama adalah dijatuhkannya sanksi ekonomi yang membuat nilai mata uang Rubel anjlok hingga 35 %.

Selanjutnya adalah tindakan AS memberikan bantuan militer kepada Ukraina baru-baru ini.

"Pahamilah bahwa kita pada dasarnya telah menyatakan perang melawan Rusia," kata Wright.

"Kita sudah melakukan tiga hal, yang pertama melumpuhkan perekonomian mereka. Yang kedua, kita menyumbang semua persenjataan (ke Ukraina-red)."

Wright kemudian menuturkan fakta yang belum banyak diketahui publik.

Yakni bahwa AS telah menggunakan sumber daya militernya untuk membantu Ukraina.

Rupanya, Pentagon mengerahkan satelit dan intelejennya untuk melacak sasaran dari pasukan Rusia.

Mengingat pihak Rusia kini telah kehilangan 4 mayor jenderal dan sejumlah komandan perang.

Selain itu, pasukan Presiden Rusia Vladimir Putin juga menderita kekurangan logistik akibat diledakkan Ukraina.

"Dan yang ketiga belum banyak disiarkan di media. Yakni kita memberikan strategi intelejen taktikal untuk Ukraina," ujar Wright.

"Pemerintah telah menandai kepala tentara dan peralatan Rusia. Mata-mata dan satelit kita telah membantu Ukraina membunuh Rusia."

"Jadi sebenarnya kita sudah mendeklarasikan perang."

Namun, Wright memperingatkan bahwa Rusia tak akan tinggal diam.

Lantaran tak bisa membalas sanksi ekonomi yang dijatuhkan AS, Kremlin diperkirakan akan melakukan serangan lewat teknologi.

"Rusia tak bisa menjatuhkan sanksi ekonomi seperti yang kita lakukan, dia akan melakukan hal-hal seperti serangan cyber," pungkasnya.

s; tribunnews.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Copy