Ternyata dr Sunardi Tahu akan Ditangkap, Berbulan-bulan Keluar Rumah Naik Ambulans



IDEANEWSINDO.COM - Densus 88 Antiteror tidak akan sembarangan dalam melakukan penangkapan terhadap tersangka teroris, termasuk dr Sunardi, di Sukoharjo, Jawa Tengah.

Sebab, sebelum melakukan penindakan, Densus 88 Antiteror harus lebih dulu mengumpulkan bukti kuat sebagaimana Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2018.

Karena itu, Direktur Jaringan Moderat Indonesia Islah Bahrawi menyatakan, tidak ada prosedur yang dilanggar Densus 88 Antiteror saat menangkap dr Sunardi.

Karena memiliki bukti-bukti kua itu juga yang menjadi penyebab Densus 88 Antiteror tidak pernah kalah dalam praperadilan.

“Media menyebutnya terduga. Padahal ini sudah tersangka,” ungkap Islah Bahrawi dalam video yang diunggah channel YouTube GMNU TV pada Selasa (15/3/2022).

Islah Bahrawi juga mengulas soal kondisi kesehatan dr Sunardi saat terjadi penembakan.

“Ini karena serangannya terlalu banyak, seolah-olah dr Sunardi ini lumpuh, harus pakai tongkat dan nggak mungkin melakukan perlawanan. Dia bisa berjalan,” kata dia, diberitakan fin.co.id.

Tongkat tersebut, kata Islah Bahrawi, adalah alat untuk menjaga keseimbangannya setelah kecelakaan.

Namun ia menyatakan bahwa dr Sunardi sejatinya tidak lumpuh.

Dalam analisanya, Islah Bahrawi bahkan menyebut bahwa dr Sunardi sudah mengetahui bahwa dirinya akan ditangkap.

“Makanya dia selama berbulan-bulan kalau keluar rumahnya naik ambulans. Karena mereka tahu Densus tidak mungkin melakukan penangkapan di ambulans,” ujarnya.

Selain itu, Densus 88 Antiteror juga tidak akan mungkin melakukan penangkapan di rumah karena dr Sunardi buka praktek dokter, di depan pasien atau keluarganya.

“Tidak mungkin juga Densus menangkap di pondok pesantren, tempat dia berasal dari Ulul Albab. Kenapa dia nggak ditangkap di pesantren? Itu standart operation procedure (SOP) di Densus,” terangnya.

Tidak hanya itu, Densus 88 Antiteror juga tidak boleh melakukan penangkapan di lembaga pendidikan, di dalam rumah ibadah, di dalam ambulans dan di depan anak-istrinya.

“Kalau profesinya dokter, maka tidak boleh ditangkap di depan pasiennya. Ini adalah rambu-rambu yang tidak boleh dilanggar,” bebernya.

Hal itulah yang kemudian membuat aparat melakukan penangkapan dr Sunardi di jalan.

“Densus membuat obstacle (rintangan, Red) di jalan. Ketika dia sedang mengendarai mobil non ambulans. Ini yang harus diketahui. Belum ada yang menyuarakan ini.”

“Mengapa saya tahu? Karena saya juga ikut mengamati gerakan-gerakan mereka ini,” terang dia.

Saat proses penangkapan, terjadi overmacht atau force majeure.

dr Sunardi, jelas Islah Bahrawi, melakukan perlawanan, membahayakan masyarakat pengguna jalan lain dan melawan petugas.

“Dia menabrak mobil petugas. Ada dua orang petugas yang naik ke bak mobilnya dibawa sekencang-kencangnya oleh Sunardi sambil berjalan zig-zag.”

“Tujuannya supaya dua petugas ini terlempar dari mobilnya. Dan betul orang itu sampai sekarang dirawat di rumah sakit,” paparnya.

Sebelum dilakukan penembakan, dua polisi sudah menggedor-gedor kap mobil dan mengatakan bahwa mereka dari kepolisian.

Petugas juga menyuruh dr Sunardi berhenti disertai tembakan peringatan.

“Tetapi dia tetap tidak mau berhenti. Sehingga terpaksa dilumpuhkan dengan tembakan ke arah bawah. Makanya yang kena adalah pinggul dan tangannya.” katanya.

“Kalau niatnya mau membunuh jidatnya yang dihajar. Kalau orang nyetir mobil itu kan yang nongol kepalanya. Tapi petugas tetap berusaha menembak ke arah bawah,” terang Islah Bahrawi.

Menurutnya, hal-hal inilah yang tidak diketahi publik sehingga memunculkan berbagai asumsi.

“Seolah-olah ini memberangus umat Islam,” tandasnya.

s; pojoksatu.id

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Copy