Anies Baswedan Kembali Kena Masalah, Kali Ini Soal Penamaan JIS yang Harus Gunakan Bahasa Indonesia



IDEANEWSINDO.COM - Jakarta International Stadium (JIS) tampaknya tak berhenti dari polemik.

Kini yang terbaru, penamaan JIS yang disebut bermasalah.

Hal tersebut karena penamaan JIS harus menggunakan bahasa Indonesia.

Politisi Gerindra Syarif meminta Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan agar penamaan Jakarta International Stadium (JIS) ditambahkan bahasa Indonesia.

Pasalnya, ada ketentuan yang mengatur soal penggunaan Bahasa Indonesia dalam penamaan fasilitas umum, tak terkecuali sarana olahraga.

"Saya mendorong pak Anies untuk mematuhi Undang-Undang itu, karena kewajiban kepala daerah adalah menjalankan Undang-Undang," ucapnya, Selasa (10/5/2022).

Aturan yang dimaksud Syarif ialah UU Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan. 

Dalam Pasal 36 ayat 3 UU tersebut dijelaskan bahwa bahasa Indonesia wajib digunakan untuk nama bangunan atau gedung, jalam, apartemen atau permukiman, perkantoran, kompleks perdagangan, merek dagang, lembaga usaha, lembaga pendidikan, organisasi yang didirikan atau dimiliki oleh warga negara Indonesia atau badan hukum Indonesia.

Kewajiban penggunaan bahasa Indonesia ini ditegaskan kembali dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 63 Tahun 2019 yang diterbitkan Presiden Joko Widodo.

Pada Pasal 3 Perpres tersebut disebutkan bawah stadion olahraga termasuk dalam bangunan atau gedung yang penamaannya diwajibkan menggunakan bahasa Indonesia.

"Di UU itu menyebutkan ada kewajiban setiap bangunan yang dibangun negara menggunakan Bahasa Indonesia," ujarnya.

"Itu di UU bunyinya wajib, saya periksa enggak ada pengecualiannya," sambungnya

Sekretaris Komisi D DPRD DKI Jakarta ini pun sepakat dengan pernyataan eks anggota Ombudsman Alvin Lie yang menyoroti penamaan JIS yang tidak menggunakan bahasa Indonesia.

"Memang padanan kata untuk mengikat memori publik itu agak susah kalau bahasa Indonesia, tapi di UU tidak ada pengecualian soal itu," kata dia.

"Kalau pakai bahasa Indonesia mungkin jadinya stadion internasional Jakarta," sambungnya.

Pemprov DKI Pertimbangkan Ganti Nama Stadion JIS

Pemprov DKI Jakarta tengah mempertimbangkan akan mengganti nama Jakarta International Stadium (JIS).

Hal ini diungkapkan Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria menanggapi pernyataan eks anggota Ombudsman Alvin Lie yang menyoroti penamaan JIS yang tidak menggunakan bahasa Indonesia.

Pasalnya, Alvin Lie menyoroti nama JIS yang tidak sesuai dengan Undang-Undang karena bukan Bahasa Indonesia.

Pemprov DKI akan menimbang penamaan stadion kebanggaan warga Jakarta itu karena takut dengan potensi pelanggaran terhadap Undang-Undang yang berlaku.

"Nanti akan kami pertimbangkan ya, kami akan lihat sejauh mana aturan dan ketentuannya. Masukan dan saran tentu kami akan pertimbangkan ya," ucapnya di Balai Kota, Senin (10/5/2022) malam.

Ariza menjelaskan, penamaan JIS tak menggunakan bahasa Indonesia lantaran Jakarta ingin menyejajarkan diri dengan kota-kota lain di dunia.

"Jakarta tidak hanya kota bagi Indonesia, tetapi Jakarta juga kota seperti kota-kota lain di dunia. Jadi, sudah menjadi kota internasional," ujarnya.

Ia pun menyebut, Pemprov DKI di bawah kepemimpinan Gubernur Anies Baswedan terus berupaya menjadikan Jakarta sebagai kota yang aman dan nyaman bagi semua orang.

"Tidak hanya warga negara Indonesia, tetapi dari warga negara dunia lainnya," kata Ariza.

Sebagai informasi, Alvin Lie dalam pernyataannya menyinggung soal Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan. 

Alvin Lie menyoroti nama JIS yang tidak menggunakan Bahasa Indonesia sesuai Undang-Undang tersebut, yang tepatnya tercantum pada pasal 36 ayat (3).

Berikut bunyi pasal 36 ayat (3) Undang-Undang nomor 24 tahun 2019: "Bahasa Indonesia wajib digunakan untuk nama bangunan atau gedung, jalan, apartemen atau permukiman, perkantoran, kompleks perdagangan, merek dagang, lembaga usaha, lembaga pendidikan, organisasi yang didirikan atau dimiliki oleh warga negara Indonesia atau badan hukum Indonesia."

Kewajiban penggunaan bahasa Indonesia ini juga tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) 63 Tahun 2019 yang diterbitkan Presiden Joko Widodo.

Pada Pasal 33 Perpres tersebut disebutkan bawah stadion olahraga termasuk dalam bangunan atau gedung yang penamaannya diwajibkan menggunakan bahasa Indonesia.

Anies disebut Raja Pamer

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dicap sebagai raja pamer oleh Ketua Fraksi PDIP DPRD DKI Jakarta Gembong Warsono.

Label tersebut diberikan Gembong lantaran Anies acap kali memamerkan kemegahan Jakarta International Stadium (JIS).

"Pak Anies yang selama ini digembar-gemborkan ini hanya pamer, pamer bahwa dia bisa membangun JIS. Jadi, pak Anies pamer saja," ucapnya saat dihubungi, Selasa (10/5/2022).

Menurutnya, hal ini dilakukan Anies untuk menutupi kegagalannya selama hampir lima tahun terakhir memimpin Jakarta.

Pasalnya, masih ada puluhan janji kampanyenya dulu yang belum terealisasikan.

"Pak Anies memamerkan kinerja membangun JIS dengan harapan menutup seolah-olsh 23 janjinya itu terealisasi," ujarnya.

"Jadi itu mengobati bahwa 23 janji itu akan selesai dengan terbangunnya JIS," sambungnya.

Gembong menilai, ada tiga janji penting Anies yang sampai saat ini belum terealisasi, yaitu program OK OCE, penanganan banjir, dan rumah DP 0 Rupiah.

Dibandingkan memamerkan pembangunan JIS, Anies dinilai Gembong, seharusnya bisa menunjukan capaian berbagai program penting tersebut.

"Apakah JIS itu manfaatnya maksimal untuk rakyat Jakarta? Saya kira tidak. Karena yang diharapkan bukaan hanya itu," kata Gembong.

"Yang diharapkan warga Jakarta bukan hanya JIS, tapi penanganan banjir, DP 0 Rupiah, dan OK OCE yang diharap menyerap lapangan kerja yang besar," sambungnya.

s; tribunnews.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Copy