Emmeril Kahn Mumtadz Ditemukan Dalam Bentuk Jasad di Sungai Aare Bern Swiss Ridwan Kamil Ikhlas



IDEANEWSINDO.COM - Gubenur Jawa Barat, Ridwan Kamil telah mengikhlaskan Emmeril Kahn Mumtadz dinyatakan meninggal dunia di Sungai Aare, Bern, Swiss.

Orang nomor satu di Jabar itu pun juga mengikhlaskan jika Emmeril ditemukan dalam kondisi jasad tak bernyawa.

Hal ini disampaikan Ridwan Kamil secara langsung saat menerima para tamu yang takziah mendoakan Eril di Gedung Pakuan, beberapa waktu lalu.

Gubernur Jawa Barat itu meminta agar masyarakat kini tak khawatir karena dirinya dan keluarga telah rela melepaskan Eril.

“Bapak dan Ibu sekalian, tak usah khawatir, kami secara batin sudah sangat mengikhlaskan kepergian ananda Emmeril Kahn Mumtadz,” ujar Ridwan Kamil, dikutip dari tayangan Cumicumi, Selasa 7 Juni 2022.

Eril, putra sulung Ridwan Kamil lahir pada 25 Mei 1999, dan dinyataka meninggal dunia pada 26 Juni 2022.

Kemudian pria yang akrab disapa Kang Emil itu menyampaikan hikmah kematian anak tercintanya itu.

Ia meyakini kepergian anak tercinta bagian dari ujian yang telah digariskan Sang Maha Kuasa kepadanya dan keluarga.

Menurutnya dirinya tengah berpegangan kepada tali keimanan untuk memahami dan beradaptasi terhadap takdir tersebut.

Apa yang mereka alami pada hakikatnya semua orang akan mengalami.

“Kita akan mengalami berpulangnya orangtua kita, pasangan kita, anak kita, saudara hingga tetangga kita,”

“Hanya kapan, di mana, caranya bagaimana, itulah rahasia Allah SWT,” ungkap kata-kata bijak Ridwan Kamil.

Demikian, pada momen kepergiannya putranya itulah pula jadwalnya baginya menyaksikan anak tercinta tiada.

Kemudian, Ridwan Kamil menjelaskan sebelum mengalami tragedi, Eril tengah safar (dalam perjalanan) berniat mencari ilmu.

Eril tengah menyelesaikan tugas akhir dan akan melaksanakan wisuda.

Kang Emil mengatakan niat Eril mencari ilmu seperti dirinya di luar negeri, seluas-luasnya.

Lanjut, Ridwan Kamil kembali menyampaikan pesan bijak hikmah kematian putranya sebagai bagian dari perjalanan.

Baginya memaknai kehidupan sebagai perjalanan bukan tujuan.

“Dunia ini hanya sementara, hanya transit, dunia ini tempat yang kita lalui di mana tujuan akhirnya adalah akhirat yang kekal, tempat kita hidup selamanya di suatu hari nanti,” ujarnya.

Demikian, dalam perjalanan tersebut sebagai manusia dirinya meminta dua hal.

Pertama yakni meminta petunjuk perjalanan supaya tidak tersesat dengan keimanan.

Kemudian kedua, dalam syariat perjalanan hidup, baginya setiap manusia mesti punya bekal berupa amal ibadah.

Lanjut, Ridwan Kamil juga menyampaikan padangannya dalam memaknai umur dengan dua cara.

Pertama yaitu dirinya akan menilai umur dari pandangan secara biologis, berhitung menurut tahun.

Selain itu yang kedua, memaknai umur baginya juga mengukur seberapa luas kebaikan seseorang di dunia.

Demikian hal itulah pula yang menjadi pandangan memakani kepergian putranya.

Meski Eril yang berusia 23 tahun, di matanya putranya panjang umur.

Ridwan Kamil membeberkan kesaksian kebaikan putranya yang di usia muda memimpin organisasi kemanusiaan.

Menurutnya, Eril selalu menebar kebahagiaan dan tak pernah bersedih selama hidupnya.

Tak hanya itu, Ridwan Kamil juga menyaksikan sosok Eril, putranya itu sebagai pelindung.

Hal ini tergambar bagaimana hingga akhir hayatnya, Eril melindungi sang ibu serta adiknya.

Sebelum akhirnya terseret arus Sungai Aare, Eril melarang ibunya, Atalia agar tak ikut berenang.

Eril terlebih dahulu ingin memastikan agar Sungai Aare tersebut aman.

Hingga akhirnya takdir Eril pun menjemput di mana takdirnya pergi di Sungai yang indah tersebut.

Di sisi lain, Ridwan Kamil dibuat terkejut karena kepergian Eril, putra sulungnya banyak didoakan.

“Kami juga awalnya kaget, begitu banyak doa, harapan dimunajatkan, baik oleh orang yang dia kenal, justru masyoritas oleh orang-orang tidak kenal,” ujarnya.

Namun dari hal tersebut, ia mengira banyaknya doa, dari masyarakat di penjuru desa, para ustaz, hingga ulama di Palestina menjadi buah bekal kebaikan putranya itu.

“Dia malam-malam kehujanan mengantarkan bantuan ke Duafa-duafa, mungkin itu buah dari kemuliaan akhlaknya,”

“Mungkin jutaan doa ini juga berkah dari orang-orang yang pernah merasa diselamatkan dan dilindunginya dalam kesehariannya,” ungkapnya.

s; tribunnews

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Copy