Mantan Dosen UI Sebut Massa Anies Baswedan hanya Seputaran Masjid hingga Singgung Nunggu Amplop



IDEANEWSINDO.COM - Anies Baswedan saat ini tengah gencar keliling Indonesia sebagai langkah untuk memuluskan langkahnya dalam pencapresan.

Akan tetapi diakui atau tidak, jika Anies Baswedan terus dijegal oleh pihak tertentu dengan berbagai cara dan upaya.

Termasuk di dalamnya adalah memframing jika massa Anies Baswedan hanya seputaran masjid, tidak lebih.

Berbeda dengan halnya dengan orang-orang yang ada dalam satu barisan dengan Ganjar Pranowo, yang digambarkan seolah-olah memiliki massa se-Indonesia.

Rupanya framing tersebut sangat terbaca, Anies Baswedan justru sangat diterima di banyak kalangan, bukan hanya jamaah masjid.

Mantan dosen Universitas Indonesia (UI), Rocky Gerung menyatakan fenomena tersebut merupakan gambaran jika masih ada yang melakukan politik identitas yang diarahkan kepada Anies Baswedan.

Termasuk di dalamnya bagaimana buzzer menggoreng ketidakhadiran Anies Baswedan di acara reuni 212.

Padahal kata Rocky Gerung,ketidakhadiran Anies Baswedan dalam reuni 212 yang berlangsung di Masjid Attin merupakan langkah cerdik panitia 212 untuk tidak menjebak Anies Baswedan.

Di waktu yang bersamaan, Anies Baswedan diketahui sedang melakukan kunjungan ke Banda Aceh.

Di sana Anies Baswedan melakukan ibadah salat Jumat di Masjid Raya Baiturrahman Aceh.

Melihat kondisi tersebut, Rocky Gerung sangat jelas melihat jika ada keterhubungan antara Masjid At Tin dan Masjid Baiturrahman.

Tegas Rocky Gerung di dua lokasi yang terpisah jarak itu justru ada dua kualitas yang menghendaki perubahan.

"Tapi justru itu yang sedang dijebakkan pada Anies supaya Anies hanya diingat sebagai orang yang massanya hanya di sekitar masjid," kata Rocky Gerung. 

"Tetapi orang lupa bahwa pintu masuk Islam adalah pintu masuk strategis untuk mempersoalkan ketidakadilan," kata Rocky Gerung.

Rocky Gerung lebih menilai jika Anies Baswedan justru secara kultural sangat dekat dengan Islam politik. 

Maka kata dia, pasti terdapat dugaan publik bahwa Anies Baswedan hanya mampu bermain dalam politik Islam.

"Ini bukan Anies yang bermain politik Islam. Ini pemerintah yang takut Anies Baswedan diasuh oleh Islam,” ujar Rocky Gerung.

Lantas Rocky Gerung meminta semua jujur, jika di pemilu nanti semua capres pasti akan sangat membutuhkan suara Islam yang mayoritas.

"Jadi kalau memang Anies Baswedan beredar di Masjid Baiturrahman, Aceh. Lalu 212 ada di Masjid At-Tin, Ganjar Pranowo bikin aja event baru,” komentar Rocky Gerung.

Lantas Rocky Gerung membandingkan bagaimana cara massa antara keinginan orang untuk bertemu Anies dan Ganjar.

Rocky Gerung mengatakan, jika banyak orang menunggu Anies Baswedan datang untuk memberi dukungan.

Lebih lanjut mantan dosen UI ini juga menyinggung orang menunggu amplop untuk menunggu kehadiran Ganjar Pranowo.

"Orang menunggu Anies Baswedan datang, kalau Ganjar Pranowo orang menunggunya untuk bagi amplop,” kata Rocky Gerung.

Rocky menilai Anies adalah tokoh yang mengajak rakyat untuk partisipasi, sementara Ganjar adalah sosok tokoh politik pro mobilisasi.

Anies Baswedan memiliki pemahaman baik untuk mengembalikan manfaat politik partisipasi tersebut. Bagi Rocky Gerung, adanya ambisi dari seseorang akan membuat potensi orang lain yang lebih pantas menjadi Presiden akan semakin dihalangi.

"Potensi seperti Anies Baswedan atau siapapun pasti akan dijegal,” kata mantan dosen UI tersebut.

Tim redaksi Warta Ekonomi telah coba meminta tanggapan ke Ganjar Pranowo atas pernyataan Rocky Gerung tersebut. Khususnya, terkait pernyataan soal orang menunggu Ganjar untuk bagi-bagi amplop. 

Akan tetapi, sampai berita ini diturunkan Ganjar Pranowo belum memberikan tanggapan. 

S: suara

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Copy